Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Damai Itu Harus Disuarakan, Bukan Diasumsikan

redaksi by redaksi
11/06/2025
in Opini
0
[Opini] Pendamping Gampong di Tengah Krisis Partisipasi dan Transparansi

Oleh Riskia Ananda Putri. Penulis adalah mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry.

Dalam kehidupan sosial, kita sering keliru mengartikan “damai”. Banyak orang menganggap bahwa ketika tidak ada kerusuhan, tidak ada demonstrasi besar, atau tidak ada suara tembakan, maka itu artinya kita hidup dalam kedamaian. Padahal, damai bukan berarti sekadar tidak ada konflik yang terlihat ia jauh lebih kompleks daripada itu.

Damai sejati hadir ketika masyarakat merasa aman untuk bersuara, ketika kelompok minoritas tidak perlu takut mengungkapkan identitasnya, dan ketika keadilan tidak hanya menjadi milik mereka yang punya kuasa. Sayangnya, banyak dari kita terbiasa dengan versi palsu dari damai versi yang diam, kaku, dan penuh asumsi bahwa “semua baik-baik saja”.

Padahal, diam bukan selalu berarti damai. Diam bisa jadi bentuk kepasrahan. Ia bisa jadi hasil dari trauma kolektif, rasa takut akan konsekuensi, atau bahkan ketidakpercayaan pada sistem. Banyak konflik di Indonesia dari Aceh, Papua, hingga konflik agraria tumbuh dari diam yang terlalu lama. Konflik bukan muncul karena ada yang berteriak, tapi karena terlalu lama tak ada yang bicara.

Inilah mengapa damai harus disuarakan. Ia harus dibicarakan terus-menerus, dijaga melalui ruang-ruang dialog yang sehat, dan dipertahankan melalui partisipasi aktif masyarakat. Kita tidak bisa hanya berharap damai hadir begitu saja. Damai bukan datang dari langit, dan tidak bisa dipaksakan dari atas. Ia tumbuh dari kejujuran, keberanian, dan kolaborasi.

Sayangnya, dalam banyak ruang sosial termasuk kampus suara-suara yang berbeda sering kali dianggap mengganggu. Kritik dibaca sebagai konflik. Orang yang bertanya justru dilabeli pembuat masalah. Padahal, jika kita sungguh ingin hidup dalam masyarakat yang damai, maka pertanyaan, kritik, dan diskusi harus dipelihara, bukan dihindari.

Sebagai generasi muda, kita punya tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan damai hanya jadi ilusi. Kita bisa memulainya dari hal sederhana: membuka ruang bicara di antara teman-teman, menolak narasi intoleran, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menyampaikan pendapat dengan santun namun tegas.

Karena kalau kita terus berdiam, siapa yang akan menjamin damai akan bertahan? Damai yang tidak disuarakan akan mudah runtuh. Sebaliknya, damai yang terus dibicarakan dan diperjuangkan akan tumbuh kuat dan menjadi budaya bersama.

Jangan biarkan damai hanya jadi simbol di spanduk atau kata-kata kosong di pidato. Mari jadikan damai sebagai kerja bersama, sebagai suara yang terus hidup bukan asumsi yang kita terima begitu saja.

Damai itu tanggung jawab kita semua. Maka, suarakanlah.

#OpiniMahasiswa
#ResolusiKonflik
#DamaiAdalahSuara
#PeaceIsNotSilence
#SuaraUntukKeadilan

Previous Post

Polisi Serahkan Tersangka Kasus Penganiayaan di Aceh Selatan ke Jaksa

Next Post

[Opini] Enigma: Kunci Mempercepat Akhir Perang Dunia II

Next Post
[Opini] Enigma: Kunci Mempercepat Akhir Perang Dunia II

[Opini] Enigma: Kunci Mempercepat Akhir Perang Dunia II

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

ForPAS : IUP MMS Bukan Cek Kosong, KPK Diminta Telusuri Kemungkinan Dugaan Gratifikasi dalam Perizinan

ForPAS : IUP MMS Bukan Cek Kosong, KPK Diminta Telusuri Kemungkinan Dugaan Gratifikasi dalam Perizinan

08/08/2026
Krak, Rp4,1 Triliun BOS Madrasah & BOP RA Tahap II Segera Cair

Krak, Rp4,1 Triliun BOS Madrasah & BOP RA Tahap II Segera Cair

08/08/2026
KKN USK Kelompok 11 Gelar Fashion Show Busana Muslim

KKN USK Kelompok 11 Gelar Fashion Show Busana Muslim

08/08/2026
Bukan hanya Perkuat Aqidah, Baitul Mal Abdya juga Perkuat Ekonomi 63 Mualaf Lewat Pelatihan Kewirausahaan

Bukan hanya Perkuat Aqidah, Baitul Mal Abdya juga Perkuat Ekonomi 63 Mualaf Lewat Pelatihan Kewirausahaan

08/08/2026
Kejar Target! Satgas TMMD Aceh Selatan Tancap Gas Cor Box Culvert

Kejar Target! Satgas TMMD Aceh Selatan Tancap Gas Cor Box Culvert

08/08/2026

Terpopuler

Baju Khas Pidie Resmi Bersertifikat, Ikhtiar Menjaga Identitas Budaya dari Klaim dan Kepunahan

Baju Khas Pidie Resmi Bersertifikat, Ikhtiar Menjaga Identitas Budaya dari Klaim dan Kepunahan

06/08/2026

[Opini] Damai Itu Harus Disuarakan, Bukan Diasumsikan

569 Peserta Ikuti PD-PKPNU Pidie Jaya, NU Tekankan Kader Berideologi dan Berdampak

Jelang Hari Damai Aceh, Kapolres Pidie Gandeng HUDA Perkuat Persatuan dan Stabilitas Daerah

KPK Ditantang Bongkar Tiga “Sarang Korupsi” di Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com