Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Fakta Perang Sipil Sudan, Genosida Modern Terparah usai Gaza

redaksi by redaksi
15/11/2025
in Internasional
0
Fakta Perang Sipil Sudan, Genosida Modern Terparah usai Gaza

Ribuan warga sipil jadi korban genosida di Sudan. Foto: REUTERS/Mohammed Jamal

Jakarta – Perang sipil di Sudan telah menjadi genosida terparah setelah konflik di Jalur Gaza, Palestina.
Kelompok-kelompok dan aktivis kemanusiaan mengatakan tanda-tanda pembersihan etnis serta bencana kemanusiaan sudah semakin terlihat dalam beberapa waktu belakangan.

Pada 26 Oktober lalu, kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) mengambil kendali atas Kota El Fasher, ibu kota wilayah Darfur Utara, setelah mengepung kawasan tersebut selama sekitar 18 bulan.

El Fasher merupakan rumah bagi sekitar 900.000 warga Sudan. Mayoritas masyarakat kini telah mengungsi imbas serbuan RSF.

Menurut Sudan Doctors Network, selama pengepungan, sekitar 14.000 warga Sudan tewas akibat pengeboman, kelaparan, dan pembunuhan sewenang-wenang.

Laporan pembunuhan massal terhadap warga Sudan non-Arab juga semakin intens, di mana Human Rights Watch (HRW) mencatat orang-orang Massalit dan non-Arab di Darfur menjadi target pembunuhan RSF.

Berbagai unggahan di media sosial juga marak memperlihatkan bagaimana prajurit RSF menyerang brutal penduduk Sudan dan mengubur mereka dalam pemakaman massal.

Yale Humanitarian Research Lab baru-baru ini merilis citra satelit Kota El Fasher setelah RSF merebut kota tersebut. Citra satelit menunjukkan tubuh-tubuh manusia bergelimpangan dengan warna merah di sekelilingnya, yang diduga darah.

Sudan Doctors Network sementara itu juga melaporkan tentara RSF telah mengeksekusi siapa pun yang berada di dalam rumah sakit selama pengepungan. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 460 orang dibunuh di Rumah Sakit Bersalin Saudi.

Associated Press (AP) juga membuat laporan serupa, yakni puluhan orang tewas dibantai RSF di sebuah rumah sakit.

Dilansir dari ABC Net, konflik Sudan ini telah menewaskan 150.000 warga akibat pertempuran, kelaparan, dan penyakit. Sekitar 21 juta orang juga dilanda kerawanan pangan akut, dengan 375.000 di antaranya berada di ambang bencana kelaparan.

Pada Maret 2024, UNICEF merilis laporan mengerikan yang menyatakan bahwa pasukan bersenjata di Sudan melakukan perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak, bahkan yang usianya satu tahun. Sejumlah anak berakhir mencoba bunuh diri imbas trauma parah yang mereka alami.

“Tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Tapi yang kami tahu, ini tidak lain adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan bisa saja menjadi genosida,” kata Bakry Elmedni, analis Sudan dan Associate Professor di Long Island University Brooklyn.

“Saya benar-benar merasa bahwa kita butuh bahasa baru untuk mendeskripsikan (kebrutalan) ini,” lanjutnya.

Pada 15 April 2023, RSF terlibat perang dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) di ibu kota Khartoum. Kedua belah pihak saling baku tembak hingga akhirnya ibu kota diduduki RSF.

Konflik RSF dan SAF sendiri terjadi setelah keduanya bekerja sama menggulingkan pemerintahan Abdalla Hamdok pada 2021. Setelah penggulingan itu, SAF meminta RSF terintegrasi sepenuhnya ke dalam jajaran dan struktur komando militer.

Namun, RSF menolak karena ingin menjadi pemimpin. Kedua sekutu itu pun berperang untuk memperebutkan kekuasaan hingga saat ini.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

Rising Star Politik AS, Apakah Zohran Mamdani Bisa Maju Capres 2028?

Next Post

Guru di Bulukumba Sulsel Minta Maaf usai Videokan Atap Sekolah Ambruk

Next Post
Guru di Bulukumba Sulsel Minta Maaf usai Videokan Atap Sekolah Ambruk

Guru di Bulukumba Sulsel Minta Maaf usai Videokan Atap Sekolah Ambruk

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

Bupati Aceh Tengah Harap Program Sesuai dengan Skala Prioritas Daerah Terdampak

27/03/2026
Pemkab Aceh Besar: THR dan Gaji 13 Guru Sudah Dibayarkan, TPG Segera…!

Pemkab Aceh Besar: THR dan Gaji 13 Guru Sudah Dibayarkan, TPG Segera…!

27/03/2026
Kapolda Ajak Generasi Muda Implementasi Program Kepolisian Hijau

Kapolda Ajak Generasi Muda Implementasi Program Kepolisian Hijau

27/03/2026
Sekda Tegaskan Pemanfaatan TKD Harus Berdampak Langsung bagi Masyarakat

Sekda Tegaskan Pemanfaatan TKD Harus Berdampak Langsung bagi Masyarakat

27/03/2026
Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Prof Saifullah Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030

Gagal Menangkan Mualem–Dek Fad di Bireuen, Peneliti: Pergantian Abang Samalanga Demi Masa Depan PA

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

Fakta Perang Sipil Sudan, Genosida Modern Terparah usai Gaza

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com