MEUREUDU – Para warga Gampong Dayah Husen Meurah Dua, menolak Pengerukan tumpukan kayu dan lumpur Di DAS Kreung Meureudu berbanding terbalik dengan warga desa lainya yang menginginkan pengerukan DAS sungai Meureudu.
“Biarkan saja tumpukan kayu dan lumpur di sungai ini. Ini juga sungai baru, sungai lama itu di sebelah sana dekat perkampungan itu,” ujar salah seorang ibu warga Dayah Husen yang menghadang aktivitas pengerukan DAS Kreung Meureudu. Rabu (10/12).
Padahal akibat tumpukan kayu dan lumpur di badan DAS Krueng Meureudu itu, Dusun Pante, Desa Meunasah Lhok telah dibelah oleh aliran sungai baru. Bahkan sejumlah bangunan sekolah serta rumah penduduk di Desa Meunasah Lhok tersebut telah digerus oleh aliran sungai baru yang terjadi pada banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.
Alasan warga Desa Dayah Husen karena mereka khawatir normalisasi sungai justru akan membuat permukiman mereka terendam banjir lagi. Anehnya lagi, warga Desa Dayah Husen, menuntut pemerintah mengeruk dan memperdalam aliran sungai baru yang dibentuk oleh banjir di tengah pemukiman Dusun Pante, Desa Meunasah Lhok.
Salah satu operator alat berat Munazir, mengatakan akan memindahkan semua alat berat dari lokasi.
“Ini alat berat pribadi, bukan milik pemerintah. Kami datang gotong-royong untuk percepatan pemulihan banjir. Rumah kami juga terkena lumpur hampir satu meter,” ujarnya.
Dalam pada itu, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya belum mengambil langkah lanjutan untuk dapat kembali dilakukan pengerukan tumpukan kayu dan lumpur di DAS Krueng Meureudu tersebut.[Mul]








