MEUREUDU-Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan gotong royong massal atau meuseuraya di Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 1 Januari 2026, ini melibatkan lebih dari 200 tenaga kependidikan (tendik) USK yang turun langsung membersihkan dan memperbaiki fasilitas masjid di wilayah tersebut.
Kegiatan meuseuraya ini menjadi bagian dari upaya USK dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta pemulihan fasilitas keagamaan yang terdampak banjir dan banjir bandang beberapa waktu lalu. Dengan semangat gotong royong, para tendik USK bekerja bersama masyarakat setempat sejak pagi hari.
Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi pembersihan area dalam dan luar masjid, pemasangan alat penyaringan air bersih, serta perbaikan dan penataan fasilitas MCK yang berada di lingkungan masjid. Selain itu, USK juga menyalurkan berbagai bantuan perlengkapan ibadah seperti karpet, sajadah, mukena, serta perlengkapan pendukung lainnya guna menunjang kenyamanan jamaah.
Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Ir. Marwan, IPU, dalam keterangannya menyampaikan bahwa meuseuraya merupakan tradisi luhur masyarakat Aceh yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial, sehingga perlu terus dihidupkan dan dilestarikan.
“Meuseuraya adalah tradisi gotong royong yang menjadi identitas dan kekuatan sosial masyarakat Aceh. Tradisi ini harus terus kita hidupkan, terutama dalam situasi pascabencana, agar semangat saling membantu dan peduli antar sesama tetap terjaga,” ujar Prof. Marwan.
Menurutnya, pelaksanaan meuseuraya di Pidie Jaya memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai bentuk kepedulian USK terhadap masyarakat, tetapi juga sebagai upaya memulihkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan aktivitas sosial masyarakat.
“Pada meuseuraya kali ini, kita fokus membersihkan dan memperbaiki masjid di Kabupaten Pidie Jaya agar dapat kembali digunakan secara nyaman dan layak oleh masyarakat. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat penguatan sosial dan spiritual warga,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Meuseuraya USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc, menjelaskan bahwa keterlibatan lebih dari 200 tenaga kependidikan merupakan wujud nyata partisipasi sivitas akademika USK dalam kegiatan kemanusiaan dan pengabdian sosial.
“Pada kegiatan meuseuraya ini, kami membawa lebih dari 200 tenaga kependidikan USK untuk turun bersama-sama membersihkan dan memperbaiki fasilitas masjid di Pidie Jaya. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan sosial USK sebagai institusi pendidikan tinggi yang lahir dan tumbuh bersama masyarakat Aceh,” ungkap Prof. Mustanir.
Ia menambahkan, keterlibatan langsung para tendik di lapangan diharapkan dapat memperkuat ikatan emosional antara USK dan masyarakat, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dalam proses pemulihan pascabencana.
Rektor USK juga menegaskan bahwa kegiatan meuseuraya ini merupakan bagian dari rangkaian panjang respon kebencanaan USK sejak terjadinya banjir dan banjir bandang pada 25 November 2025 lalu. Hingga saat ini, USK telah menurunkan lebih dari 500 tenaga medis dan dokter, serta lebih dari seribu relawan untuk membantu penanganan masa darurat di berbagai daerah terdampak bencana di Aceh.
“Sejak awal bencana, USK terus hadir di tengah masyarakat. Kami telah menurunkan ratusan dokter dan ribuan relawan untuk membantu penyaluran logistik, pelayanan kesehatan, hingga menjangkau daerah-daerah yang sempat terisolir,” jelas Prof. Marwan.
Selain penyaluran logistik dan layanan kesehatan, USK juga aktif dalam penyediaan air bersih, termasuk pemasangan alat filtrasi air di sejumlah lokasi terdampak, serta memberikan layanan kesehatan berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dengan kegiatan meuseuraya ini, USK berharap dapat terus berkontribusi dalam mempercepat pemulihan sosial dan spiritual masyarakat pascabencana, sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan gotong royong yang menjadi jati diri Aceh.












