Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

119 Relawan TCK Kemenkes Diterjunkan di Aceh Tamiang

redaksi by redaksi
10/01/2026
in Lintas Timur
0
119 Relawan TCK Kemenkes Diterjunkan di Aceh Tamiang

KUALA SIMPANG- Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan kembali mengerahkan relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II berjumlah 119 orang. Mereka bertugas memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.

Relawan TCK Batch II ini terdiri dari tenaga medis, tenaga kesehatan, dan tenaga non kesehatan dengan komposisi 9 dokter spesialis, 16 dokter umum, 59 perawat, 4 tenaga gizi, 12 tenaga kesehatan lingkungan, serta sisanya tenaga non kesehatan lainnya. Seluruh relawan akan bertugas di 15 lokus pelayanan, yang meliputi 1 rumah sakit yaitu RSUD Aceh Tamiang dan 14 titik layanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Pendamping Relawan TCK Batch II Kemenkes di Aceh Tamiang, Tirta Muhammad Rizki, menyampaikan bahwa penugasan relawan difokuskan untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan optimal, baik di fasilitas kesehatan rujukan maupun di titik-titik pengungsian.

“Sebanyak 119 relawan TCK Batch II kami bagi ke dalam 15 lokus pelayanan. Lokus pertama berada di RSUD sebagai fasilitas rujukan utama yang terus kami upayakan agar dapat berfungsi maksimal, sementara 14 lokus lainnya berada di lokasi pengungsian masyarakat terdampak,” ujar Tirta.

Ia menambahkan, kehadiran relawan lintas profesi ini bertujuan untuk menjawab berbagai kebutuhan kesehatan di lapangan, mulai dari pelayanan medis dasar dan spesialistik, keperawatan, pemenuhan gizi, hingga pengendalian kesehatan lingkungan di area pengungsian.

“Kolaborasi antara tenaga medis, tenaga kesehatan, dan tenaga non kesehatan menjadi kunci dalam respon krisis kesehatan. Kami berupaya memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, cepat, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan situasi di Aceh Tamiang serta memastikan dukungan sumber daya kesehatan tersedia sesuai kebutuhan di lapangan, sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat pascabencana.

Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) terus memberikan pelayanan kesehatan sekaligus melakukan pemetaan risiko penyakit di lokasi pengungsian terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang khususnya di Desa Sukajadi.

Salah satu relawan medis dr. Muhammad Fahriza dari RSUD Sungai Daerah, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, menyampaikan pelayanan kesehatan di posko tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga upaya mitigasi penyakit pascabencana.

Pada hari pertama pelayanan, tim relawan menemukan sejumlah penyakit yang cukup dominan di lokasi pengungsian, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi, dan diare. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terkait faktor risiko, terutama yang berkaitan dengan sanitasi dan pola konsumsi masyarakat.

“Saat ini kami melakukan pelayanan kesehatan di posko sekaligus melakukan mapping penyakit yang banyak ditemui. Di hari pertama, kasus yang cukup dominan adalah ISPA, hipertensi, dan diare. Ke depan, data ini akan kami telusuri lebih lanjut, apakah berkaitan dengan makanan, sanitasi, atau faktor lingkungan lainnya,” ujar dr. Fahriza.

Ia menjelaskan setelah melakukan pencatatan data awal, tim akan turun langsung ke tenda-tenda pengungsian untuk mengidentifikasi akar permasalahan kesehatan yang ada, sehingga intervensi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.

“Kami turun langsung ke tenda-tenda untuk mencari permasalahan yang ada. Dari situ, kami bisa langsung melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat agar kondisi kesehatan mereka kedepan bisa lebih baik,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, tim relawan terlebih dahulu mengumumkan kepada masyarakat terkait keberadaan pos kesehatan, melakukan pendaftaran, pemeriksaan tanda-tanda vital, hingga pemberian pelayanan medis. Apabila ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk sesuai kondisi.

“Jika ada kasus yang memerlukan rujukan, kami akan koordinasikan dengan puskesmas atau langsung ke rumah sakit, tergantung kondisi mana yang paling menguntungkan dan aman bagi pasien,” jelas dr. Fahriza.

Hingga saat ini, belum ditemukan lonjakan signifikan penyakit menular di lokasi pengungsian. Meski demikian, ISPA masih menjadi kasus yang paling banyak dijumpai dan terus dimitigasi agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.
Selain aspek fisik, tim relawan juga memperhatikan kondisi kesehatan mental masyarakat terdampak bencana.

“Kondisi mental masyarakat saat ini sudah mulai pulih. Memang masih ada yang mengalami trauma, namun secara umum masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan kondisi yang ada, mengingat bencana ini sudah berlangsung sekitar satu bulan,” ungkapnya.

Tim relawan juga melakukan pemetaan sanitasi lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi penyakit pascabencana. Namun, dr. Fahriza mengakui masih terdapat keterbatasan fasilitas dan peralatan kesehatan di lapangan.

“Ketersediaan obat-obatan, terutama obat kronik, serta alat kesehatan dan fasilitas pemeriksaan laboratorium sederhana masih sangat terbatas. Jika fasilitas ini dapat dilengkapi, pelayanan kesehatan tentu akan lebih efektif,” katanya.

Tim TCK yang bertugas di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, terdiri dari satu orang dokter, dua perawat, satu tenaga kesehatan lingkungan, dan satu apoteker. Tim terus berupaya memberikan pelayanan terbaik sekaligus melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi peningkatan kasus penyakit di wilayah pengungsian.

 

Previous Post

Pasar di Aceh Tamiang Sudah 80 Persen Beroperasi Pascabencana

Next Post

14 Kabupaten/Kota Terdampak Bencana di Aceh Beralih ke Transisi Darurat

Next Post
14 Kabupaten/Kota Terdampak Bencana di Aceh Beralih ke Transisi Darurat

14 Kabupaten/Kota Terdampak Bencana di Aceh Beralih ke Transisi Darurat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

14/01/2026
Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

14/01/2026
Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026
PUPR Aceh Bersihkan Longsor di Ruas Peureulak–Lokop–Batas Gayo Lues

PUPR Aceh Bersihkan Longsor di Ruas Peureulak–Lokop–Batas Gayo Lues

14/01/2026
Dinas ESDM Aceh Terjunkan 70 Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

Dinas ESDM Aceh Terjunkan 70 Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

14/01/2026

Terpopuler

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026

Banjir Aceh Diduga Akibat Hilangnya 1.100 Hektar Hutan di DAS Jambo Aye

Krak, Harga Emas di Banda Aceh Capai Rp8 Juta per Mayam

Bandara SIM Aceh Gagalkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu ke Jakarta

Pemkab Pijay Salurkan Beras CPP Bagi Korban Banjir

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com