Oleh : Dr. Muhammad Riza, MA (Kader NU Aceh Tengah / Ketua Prodi Magister PAI Pascasarjana IAIN Takengon)
Tanggal 31 Januari 2026 menjadi penanda penting dalam sejarah bangsa dan umat Islam Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad. Seabad bukan sekadar hitungan waktu, tetapi jejak panjang pengabdian merawat tradisi, menjaga persatuan, dan menghadirkan Islam yang ramah, moderat, serta membumi. Di momentum seabad Harlah NU ini, refleksi menjadi kian relevan ketika dikaitkan dengan ikhtiar pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, khususnya wilayah tengah Aceh yang meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
Bencana Hidrometeorologi dan Tantangan Pemulihan
Bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa waktu lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman, tetapi juga luka sosial dan psikologis masyarakat. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan lebih dari sekadar anggaran dan teknologi. Ia menuntut nilai, etos kebersamaan, dan kerja kolektif lintas batas. Di titik inilah nilai-nilai ke-NU-an menemukan relevansinya yang sangat kontekstual.
Moderasi Beragama NU sebagai Etos Kemanusiaan
NU sejak awal berdiri mengusung prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan ta’awun (saling menolong). Prinsip-prinsip ini bukan konsep abstrak, melainkan nilai praksis yang hidup di tengah masyarakat. Moderasi NU bukan sikap abu-abu, melainkan keberanian untuk berdiri di tengah menjadi jembatan, bukan tembok, menjadi perekat, bukan pemecah. Dalam konteks pemulihan pasca bencana, moderasi berarti menghadirkan empati, menolak politisasi penderitaan, serta mengedepankan kolaborasi kemanusiaan.
Besinte’ dan Alang Tulung Beret Berbantu: Modal Sosial Masyarakat Gayo
Masyarakat Gayo sejatinya memiliki modal sosial yang kuat untuk itu. Budaya gotong royong yang dikenal dengan istilah Besinte’ (bekerja sama) telah mengakar sejak lama. Besinte’ bukan hanya kerja bersama secara fisik, tetapi juga ikatan batin yang lahir dari kesadaran kolektif bahwa beban berat akan lebih ringan jika dipikul bersama. Nilai lokal ini sejalan dengan falsafah Gayo yang sarat makna lainnya yakni “Alang Tulung, Beret Berbantu”. Sebuah refleksi mendalam tentang empati dan solidaritas antar sesama.
Filosofi tersebut berkelindan erat dengan prinsip ta’awun dalam ajaran Islam yang menjadi ruh gerakan NU. Dalam situasi pasca bencana, ta’awun menjelma dalam berbagai bentuk uluran tangan untuk penyintas, dukungan psikososial, hingga ikhtiar bersama membangun kembali harapan. NU, dengan jaringan sosial dan kulturalnya, memiliki posisi strategis untuk terus menghidupkan spirit ini di tengah masyarakat di wilayah tengah Aceh.
Merawat Tradisi, Menjawab Zaman
Lebih jauh, kaidah ke-NU-an yang masyhur, “Al-Muhafazhatu ‘alal Qadim Shalih, wal Akhdzu bil Jadid Ashlah”, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik menjadi kompas penting dalam proses pemulihan. Tradisi gotong royong, kearifan lokal, dan nilai keagamaan perlu terus dirawat. Namun, pada saat yang sama, pendekatan baru berbasis ilmu pengetahuan, teknologi kebencanaan, dan tata kelola yang profesional juga harus diadopsi. Pemulihan pasca bencana tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai lokal.
Dalam kerangka sinergi inilah keberagaman menjadi kekuatan. Wilayah tengah Aceh adalah miniatur pluralitas etnis, budaya, dan latar belakang sosial. NU dengan prinsip tasamuh mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan rahmat yang harus dirawat. Sinergi lintas elemen ulama, umara, akademisi, pemuda, dan masyarakat sipil menjadi keniscayaan untuk mempercepat pemulihan dan membangun ketahanan sosial ke depan.
Sinergi dalam Keberagaman
Peran perguruan tinggi juga tidak bisa diabaikan. IAIN Takengon, sebagai institusi akademik Islam di Tanoh Gayo, memiliki tanggung jawab moral dan intelektual sebagai garda peradaban. Kampus bukan hanya pusat transfer ilmu, tetapi juga agen perubahan sosial. Melalui riset kebencanaan, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan moderasi beragama, IAIN Takengon dapat menjadi simpul penting dalam merajut sinergi pemulihan pasca bencana. Nilai keislaman, keilmuan, dan kearifan lokal dapat dipertemukan dalam praksis nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Seabad Harlah NU adalah momentum untuk meneguhkan kembali jati diri, Islam yang membumi, merangkul, dan solutif. Di wilayah tengah Aceh, semangat itu menemukan ruang aktualisasinya dalam ikhtiar pemulihan pasca bencana. Dengan Besinte’, dengan falsafah Alang Tulung Beret Berbantu, dengan prinsip ta’awun, tawasuth, dan tasamuh, serta dengan sinergi lintas keberagaman, harapan bukanlah utopia. Ia adalah kerja bersama yang terus dirawat.
NU memasuki abad keduanya bukan sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai pelaku peradaban. Dari Tanoh Gayo, kita belajar bahwa tradisi, moderasi, dan gotong royong adalah fondasi kokoh untuk bangkit bukan hanya dari bencana alam, tetapi juga dari tantangan zaman.









