BANDA ACEH — Sosok Chairil Anwar kembali dikenang dalam peringatan Hari Puisi Nasional yang digelar di berbagai daerah, termasuk di Aceh. Penyair Fikar W Eda menyebut Chairil sebagai tokoh kunci yang mengubah wajah sastra Indonesia secara radikal.
Dalam pernyataannya pada Hari Puisi bertajuk “Kawanku dan Aku” yang digelar di TB Kopi di Taman Budaya Aceh, Rabu (29/4/2026), Fikar menegaskan bahwa kelahiran Chairil Anwar pada 28 April menjadi alasan utama diperingatinya Hari Puisi Nasional. Momentum ini, kata dia, bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghargaan atas warisan besar yang ditinggalkan sang penyair.
“Chairil adalah salah satu tonggak penting sastra kita. Dialah yang membebaskan puisi Indonesia dari bentuk-bentuk lama,” ujar Fikar.
Menurutnya, Chairil Anwar membawa perubahan besar dengan memperkenalkan puisi yang lebih individual, ekspresif, dan eksistensial—berbeda dari tradisi sebelumnya yang cenderung terikat pada pola lama.
Fikar juga menyoroti bahwa peringatan Hari Puisi Nasional kini berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan banyak komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Dari kota-kota besar hingga daerah, perayaan puisi terus hidup sebagai ruang ekspresi dan refleksi sosial.
Ia menilai, semangat Chairil Anwar masih relevan hingga hari ini, terutama dalam menghadapi dinamika sosial dan tantangan kebebasan berekspresi.
“Puisi bukan hanya karya sastra, tapi bagian dari kehidupan. Dan Chairil telah membuka jalan itu untuk kita semua,” katanya.
Selain mengenang Chairil, perayaan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi puisi sebagai medium kritik sosial dan suara nurani masyarakat.
Fikar menambahkan, Aceh sebagai daerah dengan tradisi sastra yang kuat memiliki kedekatan emosional dengan dunia kepenyairan. Karena itu, peringatan Hari Puisi Nasional di Aceh bukan hanya seremoni, tetapi juga bentuk keberlanjutan tradisi.
“Di Aceh, puisi adalah bagian dari kehidupan. Dan semangat Chairil Anwar terus hidup dalam setiap kata yang kita tulis dan bacakan,” pungkasnya.
Penyair yang turut tampil adalah Devis Matahari, Kamal Sharif, Zul Kirbi, Salman Yoga, Din Saja, Rahmad Sanjaya, dan sejumlah penyair Aceh. []










