Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena El Nino di Aceh berpotensi terjadi pada Agustus 2026 mendatang, seiring dengan indikasi peningkatan suhu dan kondisi cuaca yang lebih kering.
Masyarakat pun diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi dampak kekeringan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Nasyithah Az-zahra Lubis, mengatakan saat ini kondisi iklim di Aceh masih berada pada fase netral. Namun, berdasarkan data terbaru, terdapat indikasi peralihan menuju fenomena El Nino dalam beberapa bulan ke depan.
“Untuk saat ini masih pada fase netral, tetapi ada kemungkinan menuju El Nino dengan kategori lemah hingga moderat,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, fenomena El Nino umumnya berdampak pada peningkatan suhu udara di suatu wilayah. Indikasi awal diperkirakan mulai terlihat pada Mei 2026, sebelum mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Di sisi lain, BMKG juga mencatat adanya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan hasil pantauan sensor MODIS (Satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP) serta NOAA20/VIIRS, terdeteksi sebanyak sembilan titik panas di seluruh Aceh.
“Terjadi peningkatan dibandingkan hari sebelumnya. Total ada sembilan titik panas, dengan jumlah terbanyak berada di Aceh Selatan sebanyak empat titik,” jelasnya.
Selain Aceh Selatan, titik panas juga terpantau di beberapa wilayah lain seperti Aceh Jaya, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah, dengan tingkat kepercayaan yang bervariasi.
Kondisi ini, kata Nasyithah, perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terlebih dengan adanya indikasi peralihan menuju fenomena El Nino dalam beberapa bulan ke depan.
BMKG mengingatkan, fenomena El Nino yang identik dengan peningkatan suhu udara dapat memperparah potensi karhutla, terutama di wilayah yang telah terdeteksi memiliki titik panas.
Untuk itu, masyarakat tak hanya diminta untuk bijak menggunakan air, tapi juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta menghindari paparan sinar matahari secara langsung dalam waktu lama.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik melalui aplikasi Info BMKG maupun media sosial resmi BMKG Aceh.










