Banda Aceh — Sastrawan dan budayawan Aceh, Thayeb Loh Angen, menilai keberadaan Taman Budaya Aceh saat ini belum sepenuhnya kembali pada fungsi ideal sebagaimana tujuan awal pembentukannya. Menurut penulis novel Tentra Atom itu, Taman Budaya perlu dikembalikan pada “fitrah” sebagai ruang yang lebih luas bagi aktivitas dan pengembangan kebudayaan.
“Ini kembali ke fitrah, kembali kepada maksud Taman Budaya dijadikan dulu di masa lalu,” kata Thayeb dalam sebuah pernyataan, Jumat (22/5/2026).
Ia mengakui selama ini Taman Budaya telah banyak berjasa dan membantu berbagai kegiatan seni dan budaya di Aceh. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah ruang dan potensi yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kita harus mengakui jasa-jasa Taman Budaya. Banyak juga membantu sebenarnya. Tetapi ada ruang-ruang yang tidak dapat digunakan,” ujarnya.
Thayeb menilai pengelolaan Taman Budaya selama ini sudah berjalan baik dan hubungan antara seniman dengan pihak pengelola juga terjalin positif. Bahkan, menurutnya, para pejabat Taman Budaya cukup terbuka terhadap komunitas seni dan budaya.
“Para pejabat Taman Budaya baik dengan kita. Kita ajak jumpa mereka bersedia, bantu acara juga,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut masih ada sejumlah aturan administratif yang membuat pengembangan program kebudayaan belum berjalan optimal. Karena itu, ia berharap ada pola pengelolaan yang memberi ruang lebih besar kepada seniman dalam mengelola aktivitas kebudayaan di Taman Budaya.
Menurutnya, jika pengelolaan program kebudayaan dapat melibatkan seniman secara lebih luas, sementara administrasi tetap dijalankan oleh pihak resmi pemerintah, maka kegiatan kebudayaan akan berkembang lebih maksimal.
“Kalau ada pengelolaan yang melibatkan seniman, dengan administrasinya tetap pejabat, akan lebih banyak program yang mendukung kebudayaan,” ujar Thayeb.
Ia berharap ke depan Taman Budaya Aceh dapat memberi porsi yang lebih besar bagi pengembangan seni dan kebudayaan daerah secara berkelanjutan.[]







