BANDA ACEH – Penyair Aceh, LK Ara, kembali menyuarakan kegelisahannya terhadap kerusakan lingkungan melalui karya sastra. Di tengah maraknya polemik pertambangan, ia menilai persoalan eksploitasi alam harus menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap ekologi dan kehidupan masyarakat.
Menurut LK Ara, isu tambang bukanlah tema baru dalam karya-karyanya. Sejak lama ia menulis puisi yang berangkat dari kegelisahan atas kerusakan lingkungan, termasuk akibat aktivitas pertambangan dan penggundulan hutan.
“Ketika pohon ditebang, itu bukan hanya soal ekologi. Pohon adalah ayat Tuhan,” kata LK Ara saat membaca puisi di sebuah diskusi seniman Aceh dan komunitas SKATE PARK STAGE Banda Aceh di Sophi Sunset Coffee, Geuce, Banda Aceh, Rabu (17/6/2026), yang dihadiri sejumlah seniman, musisi, aktor teater, pegiat budaya dan masyarakat umum.
Ia menjelaskan, berbagai perubahan bentang alam yang disaksikannya selama bertahun-tahun menjadi sumber inspirasi dalam menulis puisi. Baginya, sastra memiliki peran sebagai medium kritik sosial sekaligus pengingat agar manusia tidak kehilangan hubungan spiritual dengan alam.
Salah satu puisi yang ditulisnya terkait kegelisahan tersebut berjudul Dzikir di Hadapan Musibah. Selain itu, LK Ara juga menyinggung puisi berjudul Pantan Cuaca, nama desa di Kabupaten Gayo Lues yang ditulis sebagai bentuk protes terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi alam.
Menurutnya, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Karena itu, suara-suara kritik melalui karya sastra perlu terus dihadirkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian alam.
Melalui puisi-puisinya, LK Ara mengajak masyarakat dan para pengambil kebijakan untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam agar pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan hidup.[]










