Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Bubur Asyura di Aceh: Dari Spiritual Berubah Jadi Tradisi

redaksi by redaksi
25/06/2026
in Opini, Sejarah
0
Bubur Asyura di Aceh: Dari Spiritual Berubah Jadi Tradisi

Oleh Hamdina Wahyuni, M.Ag. Penulis adalah dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Tradisi memasak bubur Asyura di Aceh bukanlah sesuatu yang baru. Tradisi ini berkembang secara turun temurun sejak abad ke 9. Dengan kata lain, tradisi ini, khusus di Aceh, sudah berkembang hampir 12 abad lama. Sebuah tradisi yang mungkin awalnya memiliki spirit spiritual hingga kini menjadi tradisi.

Beberapa pemerintah kabupaten kota serta kelompok masyarakat di Aceh bahkan menggelar kegiatan khusus terkait bubur Asyura. Salah satunya seperti kegiatan lomba masak Bubur Asyura dan Teut Apam yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam rangka memperingati Hari Asyura 10 Muharram 1448 Hijriah.

Secara etimologi, Asyura berasal dari kata Arab “‘asyarah” yang berarti sepuluh. Maka, Asyura merujuk pada hari ke-10 dari bulan Muharram dalam kalender Hijriyah. Hari ini telah dikenal dan dimuliakan sejak zaman Nabi Musa AS dan terus dilestarikan dalam ajaran Nabi Muhammad Saw.

Satu pertanyaan menarik, kenapa dengan 10 Muharram? Dalam catatan sejarah pekembangan Islam dunia, 10 Muharram memang memiliki arti khusus. Ada banyak peristiwa penting terjadi pada tanggal ini. Salah satunya adalah syahidnya Imam Husain, cucu Rasulullah Saw, dalam tragedi pembantaian di Karbala pada 10 Muharram.

Di beberapa riwayat lain, disebutkan, hari Asyura juga diyakini sebagai hari ketika Nabi Nuh AS turun dari bahtera setelah banjir besar. Konon, ketika kapal Nabi Nuh mendarat, persediaan makanan hampir habis. Nabi Nuh kemudian mengumpulkan sisa-sisa biji-bijian yang ada dan memasaknya menjadi satu wadah bubur besar agar bisa dinikmati secara adil oleh seluruh pengikutnya yang kelaparan. Hal ini mungkin yang mengispirasi lahirnya tradisi Bubur Asyura.

Riyawat lain, 10 Muharram juga merupakan hari ketika Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan.

Beberapa negara muslim di dunia, memperigati momen Asyura dengan cara berbeda-beda. Seperti Iran misalnya, yang menganut mazhab Syiah Dua Belas Imam, memperingati hari Asyura atau 10 Muharram sebagai hari berkabung nasional yang sangat emosional dan teatrikal untuk mengenang kesyahidan Imam Husain bin Ali (cucu Nabi Muhammad Saw-red) dalam Pertempuran Karbala.

Para muslim di Iran memperingati Asyura dengan ritual duka fisik atau dikenal dengan istilah sinezani dan zanjeerzani. Dimana, istilah sinezani berate memukul dada atau beberapa kelompok-kelompok pria bergerak dalam barisan teratur sembari memukul dada mereka secara ritmis menggunakan telapak tangan, diiringi lantunan puisi ratapan (latmiyah) bernada pilu.

Foto Bubur Asyura. Foto milik antara

Sedangkan zanjeerzani juga berarti memukul punggung dengan menggunakan rantai besi kecil yang dikibaskan ke pundak atau punggung mengikuti tabuhan drum besar. Meski demikian, para ulama di Iran sendiri, melarang praktik ekstrem yang menyebabkan luka berdarah dan kegiatan lalu dialihkan menjadi gerakan donor darah massal.

Sedangkan di negara muslim yang mayoritas menganut aliran Sunni, Asyura diperingati dengan berpuasa serta ditutup dengan makan bersama. Salah satunya seperti tradisi yang berjalan di Indonesia.

Bubur Asyura dan Aceh

Nah, di Aceh, Tradisi Bubur Asyura sendiri, memang memiliki makna spiritual yang kental. Dalam kalender Aceh, Muharram juga disebut dengan Bulan Asan Usen atau Hasan Husain. Nama ini merujuk pada nama cucu nabi dan bukanlah suatu kebetulan belaka. Sedangkan Tradisi Bubur Asyura sendiri digelar pada hari ke 10 bulan Asan Usen atau 10 Muharram.

Konon, sebagian sejarawan mencatat bahwa wilayah Peureulak (Kabupaten Aceh Timur sekarang -red) pada abad ke-9 hingga ke-11 Masehi sempat dipengaruhi oleh mazhab Syiah. Sultan pertama Peureulak, Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Alaudin Syah, kerap dikaitkan dengan aliran ini dalam beberapa literatur kuno.

Jadi penamaan Bulan Asan Usen serta Bubur Asyura bukanlah sebuah tradisi atau penamaan yang muncul begitu saja di Aceh. Tradisi ini memiliki sejarah dan proses panjang dalam peradaban Islam di Aceh. Fakta ini mungkin sulit diterima oleh sebahagian masyarakat di Aceh saat ini yang mayoritas adalah penganut Sunni.

Bubur Asyura sendiri, di beberapa tempat di Aceh, dimasak dengan 41 jenis bahan pangan. Mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, jagung, hingga rempah gulai yang gurih. Prosesnya sedikit lebih rumit serta memerlukan waktu yang relative lebih lama dibandingkan dengan bubur biasa.

Beberapa kelompok masyarakat, biasanya membentuk satu kelompok besar untuk memasak Bubur Asyura, yang terdiri dari kaum pria dewasa dan ibu-ibu. Para dewasa biasanya bertugas mencari biji-bijian khusus dan kayu bakar. Sedangkan kaum ibu bertugas memasak dengan menggunakan kuali besar. Tradisi ini mempererat silaturahmi, dibiayai dengan patungan (meuripee), dan disajikan sebagai menu wajib berbuka puasa sunah.

Kegiatan memasak Bubur Asyura sendiri mengusung budaya ‘meuripee’ atau patungan serta gotong royong.

Terlepas pro kontra dan riwayat panjang lahirnya tradisi Bubur Asyura di Aceh, kebiasaan ini memiliki nilai dan tujuan yang baik. Bubur Asyura sendiri juga bukan satu-satunya tradisi spiritual yang menjadi tradisi sesuai kearifan local di Aceh.

 

 

Previous Post

Setelah Itsbat Nikah, 47 Pasutri Pulo Aceh Terima Dokumen Adminduk Baru

Next Post

SLB YBSM Banda Aceh Raih Juara Umum di Acara Kontes Sekolah

Next Post
SLB YBSM Banda Aceh Raih Juara Umum di Acara Kontes Sekolah

SLB YBSM Banda Aceh Raih Juara Umum di Acara Kontes Sekolah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

SLB YBSM Banda Aceh Raih Juara Umum di Acara Kontes Sekolah

SLB YBSM Banda Aceh Raih Juara Umum di Acara Kontes Sekolah

25/06/2026
Bubur Asyura di Aceh: Dari Spiritual Berubah Jadi Tradisi

Bubur Asyura di Aceh: Dari Spiritual Berubah Jadi Tradisi

25/06/2026
Setelah Itsbat Nikah, 47 Pasutri Pulo Aceh Terima Dokumen Adminduk Baru

Setelah Itsbat Nikah, 47 Pasutri Pulo Aceh Terima Dokumen Adminduk Baru

25/06/2026
Kompas Bangun Kembali SDN Teumpeun, Bupati Al-Farlaky: Investasi Masa Depan Generasi

Kompas Bangun Kembali SDN Teumpeun, Bupati Al-Farlaky: Investasi Masa Depan Generasi

25/06/2026
Tabligh Akbar Peringati 1 Muharram di Abdya, Ucay Roasting Pejabat

Tabligh Akbar Peringati 1 Muharram di Abdya, Ucay Roasting Pejabat

25/06/2026

Terpopuler

Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

24/06/2026

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

Meski Baru Saja Dikerjakan, Muara Lhok Pawoh Abdya Kembali Dangkal

Nyan, Pilchiksung Serentak di 31 Gampong, 76 Calon Keuchik Berebut Dukungan Warga Pidie Jaya

Sugeng Warisno: Pemuda Tamiang Raih Predikat Lulusan Terbaik UIN Ar-Raniry 2026 dengan IPK Tertinggi 3,96

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com