SIGLI – Kabupaten Pidie kembali menjadi pusat perhatian olahraga bela diri di Aceh. Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Aceh akan menggelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) Karate Piala Bupati dan Wakil Bupati Pidie pada 15–19 Juli 2026 di Sigli, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Pidie ke-515.
Dengan total hadiah mencapai Rp51,5 juta, kejuaraan ini diproyeksikan menjadi salah satu event karate terbesar di Aceh tahun 2026. Kejurda tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi barometer keberhasilan pembinaan atlet karate di seluruh kabupaten/kota di Aceh sekaligus wadah seleksi menghadapi berbagai kejuaraan tingkat nasional.
Ketua Panitia, Hendra Darmawan, S.H, mengatakan penyelenggaraan Kejurda merupakan bagian dari komitmen FORKI Aceh dalam memperkuat sistem pembinaan atlet secara berjenjang dan berkelanjutan.
“Kejuaraan ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah mengukur hasil pembinaan di daerah, menemukan bibit-bibit potensial, serta mempersiapkan mereka untuk bersaing pada level nasional bahkan internasional,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan, seluruh pengurus FORKI kabupaten/kota di Aceh didorong mengirimkan atlet terbaiknya sehingga kualitas pertandingan benar-benar mencerminkan perkembangan karate di Aceh.
Nomor yang dipertandingkan meliputi kata (jurus) dan kumite (pertarungan) pada berbagai kategori usia, mulai dari usia dini, kadet, junior hingga senior, baik putra maupun putri.
Selain menjadi ajang pembinaan prestasi, pelaksanaan Kejurda diperkirakan membawa dampak ekonomi bagi Kabupaten Pidie.
Kehadiran ratusan atlet, pelatih, wasit, ofisial, dan keluarga peserta diprediksi meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, rumah makan, transportasi, hingga pelaku usaha mikro selama berlangsungnya kejuaraan.
Sementara itu, Sekretaris Panitia, Abzari Jafar, menegaskan pihaknya berkomitmen menjadikan Kejurda tahun ini sebagai standar baru penyelenggaraan kompetisi karate di Aceh.
“Kami ingin menghadirkan kejuaraan yang profesional, sportif, dan berintegritas. Harapannya, Kejurda ini menjadi tolok ukur pembinaan karate Aceh sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan event olahraga di daerah,” katanya.
Meski demikian, panitia mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan anggaran, pemenuhan sarana pertandingan sesuai standar FORKI, hingga koordinasi teknis dengan seluruh kontingen. Namun berbagai persiapan terus dimatangkan agar pelaksanaan berjalan sukses.
Di sisi lain, Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) FORKI Aceh, Sulaiman, S.E., menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Kejurda di Pidie. Menurutnya, kompetisi seperti ini menjadi fondasi penting dalam mencetak regenerasi atlet karate Aceh.
“Kami berharap Kejurda ini menjadi tempat lahirnya atlet-atlet berbakat yang nantinya mampu mengharumkan nama Aceh pada tingkat nasional maupun internasional,” ujar Sulaiman.
Hal senada disampaikan Ketua KONI Kabupaten Pidie, Muhammad, S.Pd.I. Ia menilai kepercayaan menjadikan Pidie sebagai tuan rumah merupakan momentum untuk menunjukkan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan event olahraga berskala provinsi.
“Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pidie dan seluruh pemangku kepentingan, kami berharap Kejurda ini tidak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga melahirkan atlet-atlet berkualitas yang mampu membawa nama Aceh bersaing di level nasional hingga internasional,” katanya.
Melalui Kejurda ini, FORKI Aceh menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak cukup hanya dilakukan melalui latihan rutin.
Kompetisi yang berkualitas, berjenjang, dan berkesinambungan menjadi kunci untuk mengukur hasil pembinaan, memperkuat mental bertanding atlet, serta menjaga keberlangsungan prestasi karate Aceh di masa depan.[Mul]










