Banda Aceh – Penentuan nahkoda baru DPD Partai Demokrat Aceh harus berpijak pada loyalitas kokoh, kapasitas kepemimpinan yang teruji, serta kontribusi nyata dalam membesarkan partai.
Dinamika politik sesaat tidak boleh mengaburkan rekam jejak kader yang telah berdarah-darah di lapangan.
Pandangan tegas ini disampaikan oleh Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Direktur E-Trust, Dr. Nasrul Zaman.
Menurutnya, drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes., anggota DPRA sekaligus pengurus DPD Demokrat Aceh, merupakan figur dengan portofolio politik yang sangat kuat dan relevan untuk memimpin partai di masa depan.
“Partai politik yang besar dan matang akan semakin kuat apabila memberikan kepercayaan kepada kader yang terbukti bekerja membangun organisasi, memperluas komunikasi politik, dan menghadirkan kemenangan bagi partai,” ujar Nasrul Zaman.
Ia membeberkan sejumlah capaian strategis Demokrat selama Nurdiansyah berkiprah di parlemen. Salah satu indikator keberhasilan paling nyata adalah melonjaknya posisi tawar (*bargaining position*) Demokrat di parlemen, ditandai dengan keberhasilan merebut kursi Ketua Komisi IV DPRA—posisi strategis yang sebelumnya didominasi oleh partai lokal.
Kepercayaan publik dan lintas fraksi juga terwujud lewat penempatan kader Demokrat memimpin berbagai Panitia Khusus (Pansus) dan Panitia Kerja (Panja) strategis.
Di ranah kebijakan publik, Nurdiansyah juga menjadi motor penggerak dalam revisi Qanun Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Aceh, dengan sukses memasukkan nomenklatur Ekonomi Kreatif ke dalam Dinas Pariwisata guna mempercepat kebangkitan ekonomi daerah.
Lebih jauh, Nasrul menilai bertahannya kursi DPR-RI dari Dapil Aceh pada Pemilu 2024 tidak lepas dari buah konsolidasi taktis yang dibangun Nurdiansyah. Hubungan komunikasinya yang harmonis dengan tokoh-tokoh kunci Partai Aceh serta jajaran pemerintahan menjadi pilar penting penjaga stabilitas dan eksistensi partai.
Nasrul berharap DPP Partai Demokrat, khususnya Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjadikan variabel dedikasi, kapasitas komunikasi lintas sektor, dan capaian riil ini sebagai parameter utama penentu kepemimpinan di Aceh.
“Regenerasi kepemimpinan Demokrat Aceh akan kokoh jika dibangun di atas fondasi rekam jejak nyata, bukan kompromi sesaat. Nurdiansyah Alasta adalah aset strategis yang sudah membuktikan pengabdiannya,” pungkas Nasrul.










