MAGELANG – Kamis (30/7/2026) menjadi hari yang lama dinantikan Aji Avca Gunawan. Saat pengumuman kelulusan Akademi Militer 2026 dirilis, nama alumnus Pesantren Modern Al Zahrah angkatan ke-22 “Orion Generation” itu akhirnya tercantum sebagai Taruna Akmil.
Kabar gembira itu menggerakkan jemarinya menghubungi orang tua dan keluarga di kampung halaman.
“Mak, alhamdulillah saya lulus, terima kasih doanya, usahanya,” sebut Aji bahagia bercampur haru dari bumi Magelang via rekanan video.
Momen haru itu pecah dan membayar lunas semua usaha dan doa yang ia tekuni bertahun-tahun. Orang tuanya yang sehari-hari menggarap kebun kopi meraup muka penuh syukur saat mendengarkan kabar kelulusan anaknya.
Bagi Aji, kelulusan ini bukan hasil tanpa liku. Di balik kabar gembira itu ada 3 kali kegagalan yang telah dilalui, evaluasi panjang, kerja keras, dan doa orang tua di Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah.
Meniti Cita-cita di Tengah Keterbatasan
Aji merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sugito dan Fatmawati. Lahir 9 Januari 2006, ia menamatkan MTsS dan MAS Pesantren Modern Al Zahrah pada 2023.
Sejak kecil, cita-cita menjadi perwira TNI sudah tertanam kuat.
“Dari kecil dia sudah bilang mau jadi TNI,” kenang kakaknya, Eva, melalui sambungan telepon, Ahad (2/8/2026).
Menurut Eva, semangat itu bahkan muncul dalam mimpi adiknya.
“Aji pernah bercerita, dalam mimpinya ia menjadi bagian dalam menyelamatkan negara Palestina dari gangguan negara lain,” tuturnya.
Namun jalan menuju cita-cita itu jauh dari kata mudah. Seleksi pertama yang ia ikuti akhir 2024 terhenti di Pantukhir, Pemantauan Akhir. Setahun kemudian, ia mencoba jalur Calon Bintara TNI. Hasilnya masih sama.
Alih-alih menyerah, Aji justru menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Di sela waktu, ia membantu orang tua merawat kebun kopi. Dari hasil panen itulah ia menabung sedikit demi sedikit untuk biaya belajar dan keberangkatan.
Tak hanya itu, jauh sebelum memasuki babak mendaftar Akademi Militer ia terlebih dahulu menuntaskan hafalan Al-Qur’an. Selama 3,5 bulan ia nyantri di Pesantren Darul Qur’an Medan hingga berhasil mengkhatamkan hafalan 30 Juz Al-Qur’an.
Setelah dua kali gagal, Aji pun berbenah lebih serius. Ia mengikuti bimbingan belajar intensif khusus persiapan Akmil di Banda Aceh. Di waktu yang sama, ia disiplin berolahraga dan menambah wawasan akademik untuk memperbaiki kekurangan yang dulu membuatnya gugur.
Pantang Menyerah
Berbekal persiapan baru, tahun 2026 Aji kembali mendaftar. Ini adalah usaha keempatnya. Seleksi awal ia jalani di Kodam Iskandar Muda. Setelah dinyatakan lolos, perjuangannya berlanjut ke tahapan pusat di Akmil Magelang, Jawa Tengah.
Keberangkatan ke Magelang tentu bukan perkara ringan. Dengan keterbatasan ekonomi, orang tuanya hanya bisa mengiringi dengan doa dan bekal dari hasil bertani selama berbulan-bulan.
Namun penantian panjang itu akhirnya terbayar lunas. Pada 30 Juli 2026, nama Aji Avca Gunawan resmi dinyatakan lulus. Kini ia tengah menjalani pendidikan dasar taruna selama tiga bulan ke depan di Lembah Tidar.
“Selama itu, tidak bisa diganggu dan dihubungi, karena fokus mengikuti pendidikan, doakan Aji sehat-sehat dan lancar semuanya,” terang kakaknya, Eva menjelaskan alasan kontak Aji tidak bisa dihubungi media.
Al Zahrah dan Nilai yang Tak Lekang
Prestasi Aji ini pun mendapat apresiasi dari almamaternya. Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., menyebut kelulusan ini sebagai bukti nyata.
“Apa yang diraih Aji adalah bukti bahwa lulusan Al Zahrah mampu meniti cita-cita apa saja tanpa menanggalkan identitas kesantriannya,” ujar Tgk. Fadhil.
Lebih lanjut ia menegaskan, “Di balik seragam taruna, Aji juga seorang hafidz. Itu adalah ciri utama alumnus Al Zahrah. Profesi dan karir apa pun yang dipilih alumnus Al Zahrah harus siap menjadi imam, mubaligh, hafidz, dan menjunjung tinggi moral serta adab.”
Hal senada disampaikan Eva. Ia mengaku sangat berterima kasih kepada para guru. “Mental dan kedisiplinan Aji terbentuk di Al Zahrah. Terima kasih untuk semua ustaz yang mendidik Aji hingga berdampak seperti saat ini,” ucapnya haru.
Dari Atu Singkih ke Lembah Tidar, Aji membawa nama keluarga, almamater, dan cita-cita yang telah ia rawat sejak kecil. Baginya, kelulusan ini bukanlah garis akhir. Ini justru awal dari pengabdian yang lebih besar.










