MEUREUDU – Musyawarah Daerah (Musda) II Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pidie Jaya menetapkan Muhammad Haykal, S.Kom sebagai Ketua FPRB periode 2026–2031.
Haykal meraih dukungan sekitar 95 persen suara peserta, mencerminkan tingginya kepercayaan anggota terhadap kepemimpinannya dalam memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di daerah. Musda yang berlangsung di Aula Kementerian Agama Kabupaten Pidie Jaya, Cot Trieng, Selasa 5 Agustus 2026.
Dihadiri Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi, M.A., S.Sos., M.E., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kejaksaan Negeri, Polri, Makamah Syariah, BPBD, Bank Aceh Syariah, Bank Syariah Indonesia (BSI), akademisi, organisasi kemasyarakatan, relawan kebencanaan, media, dunia usaha, hingga perwakilan komunitas.
Ketua panitia menjelaskan bahwa Musda diikuti peserta dari berbagai unsur pentahelix yang telah terdaftar sebagai anggota FPRB. Seluruh peserta memiliki hak suara berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pidie Jaya Nomor 7 Tahun 2026.
“Peserta Musda berasal dari unsur pemerintah, organisasi, lembaga, komunitas, akademisi, media, dunia usaha, dan masyarakat yang telah ditetapkan sebagai anggota FPRB melalui SK Kepala Pelaksana BPBD,” jelasnya.
Dalam sambutan usai terpilih, Muhammad Haykal menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan seluruh anggota.
Menurutnya, kemenangan tersebut bukan milik pribadi, melainkan amanah bersama untuk membangun organisasi yang lebih kuat dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Terima kasih atas seluruh dukungan yang telah diberikan. Ini adalah kemenangan kita bersama. Insya Allah, amanah ini akan kami jalankan dengan penuh tanggung jawab, Kita akan bersama-sama memajukan FPRB Kabupaten Pidie Jaya agar semakin aktif, profesional, dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ketangguhan daerah menghadapi berbagai potensi bencana,” ujar Haykal.
Ia menegaskan kepengurusan baru akan memprioritaskan penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan, peningkatan kapasitas relawan, edukasi kebencanaan hingga ke tingkat gampong, serta mendorong lahirnya budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
Keberadaan FPRB dinilai memiliki peran penting sebagai wadah kolaborasi lintas sektor dalam mendukung penyelenggaraan penanggulangan bencana yang tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga pada aspek pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan pemulihan.
Dengan kepemimpinan baru, FPRB Pidie Jaya diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan relawan sehingga upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Pidie Jaya dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi keselamatan masyarakat.[Mul]









