SURABAYA – Perjalanan akademik tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Hal itu dialami Nursamsu, dosen Universitas Samudra, Aceh, yang berhasil menuntaskan pendidikan doktoralnya di Program Studi S3 Pendidikan Sains, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di tengah berbagai tantangan, termasuk musibah banjir besar yang melanda Aceh.
Perjuangan tersebut berbuah prestasi membanggakan. Nursamsu berhasil menjadi wisudawan terbaik jenjang doktor (S3) pada Wisuda ke-121 Universitas Negeri Surabaya dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.
Capaian itu menjadi semakin bermakna karena proses menyelesaikan studi doktor tidak hanya menuntut ketekunan akademik, tetapi juga kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Nursamsu lahir di Pangkalan Susu pada 27 Agustus 1984. Ia merupakan dosen Universitas Samudra, Aceh. Keinginannya melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor berawal ketika Program Studi Pendidikan Biologi di institusi tempatnya mengabdi sedang menjalani proses akreditasi.
Dalam proses tersebut, muncul rekomendasi agar dosen melanjutkan pendidikan doktoral. UNESA kemudian menjadi salah satu pilihan karena sistem perkuliahannya memungkinkan pembelajaran dilakukan secara hibrida, sehingga memberikan kesempatan bagi Nursamsu untuk tetap menjalankan tanggung jawab profesionalnya di Aceh.
Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan mendaftar pada Program Studi S3 Pendidikan Sains Universitas Negeri Surabaya.
Perjalanan tersebut tentu membutuhkan komitmen besar. Jarak antara Aceh dan Surabaya mengharuskannya mampu mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga, perkuliahan, penelitian, serta berbagai kewajiban akademik selama menjalani studi doktor.
Proses Akademik yang Dijalani dengan Konsisten
Kesungguhan Nursamsu dalam menjalani pendidikan doktor terlihat dari perkembangan studinya. Pada Agustus 2024, ia datang ke Universitas Negeri Surabaya untuk mengikuti seminar proposal.
Setelah tahap tersebut, proses akademiknya terus bergerak hingga memasuki berbagai tahapan penyelesaian disertasi. Ia juga berhasil memenuhi persyaratan publikasi artikel internasional sebagai bagian dari proses akademik pada jenjang doktor.
Konsistensi menjadi salah satu faktor penting yang membantunya menyelesaikan studi. Ia tidak hanya fokus pada penyelesaian administrasi akademik, tetapi juga berusaha mempertahankan kualitas penelitian dan mengikuti setiap tahapan pendidikan dengan sungguh-sungguh.
Namun, perjalanan tersebut kemudian menghadapi ujian yang jauh berbeda dari aktivitas akademik sehari-hari.
Banjir Aceh Menjadi Ujian di Tengah Penyelesaian Disertasi
Musibah banjir besar yang melanda Aceh menjadi salah satu pengalaman paling berat bagi Nursamsu selama menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Bencana tersebut tidak hanya memberikan dampak terhadap kondisi fisik dan aktivitas keseharian, tetapi juga menghadirkan tekanan psikologis. Sejumlah dokumen penting yang berkaitan dengan penelitian dan disertasinya harus diselamatkan.
Bahkan, laptop yang menyimpan berbagai data dan dokumen penelitian turut terdampak banjir.
Dalam kondisi tersebut, Nursamsu tetap berusaha mempertahankan semangat untuk melanjutkan proses akademiknya. Situasi bencana tidak membuatnya menghentikan perjuangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Keteguhan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian pendidikan doktor tidak semata-mata bergantung pada kemampuan akademik. Ketahanan menghadapi masalah, konsistensi, dan dukungan lingkungan juga menjadi bagian penting dari perjalanan seorang mahasiswa doktoral.
Dukungan Keluarga dan Promotor Menjadi Kekuatan
Di tengah berbagai tantangan, dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan utama bagi Nursamsu.
Suaminya memberikan izin serta dukungan penuh agar ia dapat menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Dukungan juga datang dari promotor dan ko-promotor yang mendampingi proses akademik dan penelitian hingga disertasi dapat diselesaikan.
Kolaborasi antara ketekunan pribadi, dukungan keluarga, dan pendampingan akademik menjadi faktor penting yang memungkinkan perjalanan tersebut terus berlanjut meskipun menghadapi berbagai kendala.
Angkat Kearifan Lokal Aceh dalam Penelitian Disertasi
Tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan dengan IPK sempurna, penelitian doktoral Nursamsu juga membawa identitas dan kekayaan lokal Aceh ke dalam kajian pendidikan sains.
Ia menyelesaikan disertasi berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Creative Inquiry Project Laboratory (CIPro-Lab) Berbasis Kearifan Lokal Aceh untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA.”
Melalui penelitian tersebut, Nursamsu mengembangkan model pembelajaran laboratorium yang memadukan aktivitas penyelidikan ilmiah, proyek, dan konteks kearifan lokal Aceh.
Pendekatan tersebut menempatkan pembelajaran sains tidak sebatas pada penguasaan teori. Pengetahuan ilmiah juga perlu dikaitkan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan budaya tempat peserta didik berada.
Integrasi kearifan lokal Aceh dalam pembelajaran sains sekaligus menjadi upaya untuk membuat proses pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman peserta didik.
Model yang dikembangkan diarahkan untuk mendukung peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa SMA melalui proses pembelajaran yang aktif dan berbasis penyelidikan.
Keberhasilan menjadi wisudawan terbaik S3 UNESA dengan IPK 4,00 bukanlah target utama yang sejak awal ditetapkan Nursamsu.
Baginya, tujuan terpenting adalah mampu menjalani dan menyelesaikan setiap tahapan akademik dengan sungguh-sungguh.
Pengalaman selama menjalani studi menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan doktoral membutuhkan kemauan untuk terus belajar dan konsistensi menjalankan proses. Membaca berbagai artikel ilmiah internasional juga menjadi bagian penting dalam memperkuat kemampuan akademiknya.
Selain itu, komunikasi yang baik dengan promotor serta dukungan keluarga turut menjadi faktor yang membantu proses penyelesaian pendidikan.
Keberhasilan Nursamsu akhirnya menjadi lebih dari sekadar pencapaian akademik dengan IPK sempurna. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana komitmen terhadap pendidikan dapat tetap dipertahankan di tengah keterbatasan jarak, tanggung jawab pekerjaan, tuntutan penelitian, hingga musibah bencana.
Dari Aceh menuju Surabaya, dari proses penelitian hingga menghadapi banjir, perjalanan tersebut berakhir dengan salah satu pencapaian tertinggi dalam pendidikan akademik: gelar doktor sekaligus predikat wisudawan terbaik Universitas Negeri Surabaya.








