Banda Aceh – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh mempercepat pembangunan tiga saluran air beton atau box culvert di Ruas Beutong–Celala, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. Infrastruktur senilai sekitar Rp3 miliar tersebut ditargetkan rampung pada Oktober 2026 untuk memperkuat akses warga dari ancaman erosi, banjir, dan longsor.
Pembangunan box culvert merupakan bagian dari penanganan permanen setelah Ruas Beutong–Celala sempat terputus akibat bencana hidrometeorologi. Kondisi tersebut membuat wilayah di sekitarnya terisolasi dari arah Nagan Raya maupun Takengon.
Struktur baru disiapkan untuk mengendalikan aliran air saat hujan deras sehingga tidak kembali menggerus lereng dan badan jalan.
Project Manager Penanganan Bencana Alam Ruas Genting Gerbang–Jeuram, Feri Ejin, mengatakan box culvert dibangun dengan dimensi 3×6 meter, lebih besar dibandingkan struktur sebelumnya. Kapasitas tersebut diharapkan mampu menampung dan mengalirkan air dengan lebih aman ketika debit meningkat.
“Dimensinya diperbesar dibandingkan sebelumnya. Dengan ukuran 3×6 meter, kami berharap aliran air saat hujan deras dapat tertampung dan terbuang dengan lebih baik sehingga kejadian seperti tahun lalu tidak terulang,” kata Feri saat meninjau pengerjaan.
Pembangunan dilakukan pada tiga titik dengan tantangan utama berupa distribusi material menuju lokasi. Material harus menempuh perjalanan hampir 50 kilometer melalui medan menanjak dan terjal.
Kondisi tersebut membuat kapasitas angkut setiap truk dibatasi sekitar tujuh meter kubik dengan frekuensi rata-rata satu perjalanan per hari.
“Tantangannya adalah memastikan material sampai dan selalu tersedia di lokasi. Medannya cukup ekstrem sehingga kapasitas truk terbatas, sedangkan semen dan material lainnya harus terus dipasok agar pekerjaan tidak terhenti,” ujar Feri dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Untuk mengejar target penyelesaian, BPJN Aceh mengerahkan sembilan ekskavator, 10 dump truck, satu tandem roller, satu dozer, serta sejumlah peralatan pendukung.
Jumlah tenaga kerja dan jam operasional juga disesuaikan dengan kondisi lapangan. Saat cuaca cerah, waktu pengerjaan diperpanjang untuk mengganti waktu kerja yang hilang akibat hujan.
Kepala Urusan Tata Usaha Pejabat Pembuat Komitmen 2.7 Aceh, Fachrun Rizaldi, mengatakan percepatan diperlukan karena ruas tersebut menjadi akses penting bagi mobilitas masyarakat.
“Kami melakukan percepatan karena daerah ini sempat terisolasi. Dari arah Nagan Raya tidak bisa masuk, demikian pula dari arah Takengon,” katanya.
Setelah box culvert selesai, jalur tersebut diharapkan lebih tangguh menghadapi peningkatan debit air sekaligus menjaga pergerakan orang, barang, dan aktivitas ekonomi warga.
Perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR) dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, menegaskan penguatan infrastruktur harus memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama saat menghadapi musim hujan.
“Ketika curah hujan dan debit air meningkat, masyarakat harus tetap merasa nyaman dan terlindungi,” ujarnya.
Satgas PRR juga mendorong penguatan koordinasi antara BPJN Aceh, pemerintah daerah, pelaksana pekerjaan, dan unsur terkait untuk mengatasi hambatan distribusi material maupun kondisi cuaca.






