Aku terdiam mendengar pernyataan Rusli. Secara tak langsung, ia mengakui bahwa kami, eks Tentara Nanggroe, telah melanggar sumpah yang kami ucapkan saat awal direkrut dulu. Kami bersumpah di atas Alquran untuk terus berjuang hingga Aceh Merdeka. Namun realitanya kini justru sebaliknya.
Aku lagi-lagi menghelai nafas panjang.
“Ya sepertinya aku juga harus membayar kafarat sumpah segera,” ujarku kemudian.
Iwan terlihat mengangguk dari arah depan. Sedangkan Mustafa tanpa menolek sedikitpun.
“Sekitar tahun 2003, aku pernah dikirim ke pesisir selatan untuk merekrut tentara baru disana. Aku berpidato di masjid dan merekrut puluhan pemuda. Puluhan orang, aku sumpahkan selama lebih 3 bulan. Kemudian mereka berlatih pegang senjata dan resmi bergerilya,” kata Iwan tiba-tiba.
“Kalau dipikir-pikir kini, aku malu sendiri. Aku bawa-bawa hadist dan Alquran saat berpidato.”
“Belakangan aku baru tahu, sebahagian dari mereka yang kurekrut telah tewas dalam serangkaian perang,” ujar Iwan.
Mendengar hal ini, kami lagi-lagi terdiam. Sama seperti Iwan, aku juga melatih dan membait banyak pasukan Nanggroe selama konflik. Bercerita soal ideologi Aceh Merdeka serta Aceh yang berdiri sendiri di masa depan. Beberapa di antaranya, seperti almarhum Rahmad, abangnya Rusli.
“Saat ini, setiap tidur, aku selalu gelisah. Wajah-wajah rekan rekan seperjuangan yang telah meninggal selalu muncul. Mereka menuntut tanggungjawabku,” kata Iwan lagi kemudian. Wajahnya terlihat kaku. Ia sepertinya mengalami tekanan psikologi besar setelah damai.
Iwan memang rekrutmen GAM dari dayah. Kepiawaiannya berpidato digunakan komando sebagai penyebar ideologi saat konflik. Posisinya sama seperti Ilyas Pase.
Aku pernah melihat Iwan berpidato usai salat magrib di kamp saat bergerilya dulu. Caranya membakar semangat pasukan sangat luar biasa. Setelah damai terjadi, Iwan pernah sekali muncul di atas panggung politik tahun 2007, kemudian mundur teratur tanpa ada kabar. Kabarnya tak ingin terlibat politik dan ingin hidup tenang di kampung. Tak kusangka, dalam perjalanan ini, kami kembali bertemu.
Aku tak berani menebak, apa sebenarnya tujuan perjalanan kali ini. Kami berempat nyaris tak pernah berkomunikasi setelah damai.
Mustafa dikenal membenci kepemimpinan Mualem yang dinilai tak konsisten. Sedangkan Iwan tertutup dan menarik diri dari politik. Hanya Rusli yang terbilang aktif dalam struktur komando tapi belakangan juga mulai menunjukan sisi pembangkang.
Rusli tiba tiba menelponku seminggu lalu dan bertanya keberadaanku. Aku bilang sedang merantau di luar Aceh untuk mencari kehidupan layak. Sudah beberapa tahun dan jarang pulang ke Aceh.
Rusli membeli tiket pesawat dan memintaku kembali. Begitu aku tiba di Lhokseumawe. Ia menjemput. Ada Mustafa dan Iwan juga di mobil. Aku diajak ke salah satu cafe di kawasan Gunung Salak. Katanya untuk sekedar bernostalgia, dan terjadilah seperti sekarang.
Drum…mobil kami berhenti di sebuah cafe dekat turunan Gunung Salak. Dari sana terlihat jelas Krueng Tuan yang menjadi markas kami semasa konflik.
“Kita tiba Pakwa,” ujar Mustafa tiba-tiba. Ia menepi.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)

![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)