Aceh Selatan | Harapan petani di Gampong Drien Jalo dan Roet Tengoh, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, untuk kembali menggarap sawah harus tertunda. Pasalnya, sekitar 20 hektare area persawahan di dua gampong tersebut mengalami kekeringan akibat tidak dialiri air irigasi sejak pascapanen beberapa bulan terakhir.
Berita ini dikutip dari larasnews.com Kondisi tersebut membuat petani harus menelan kekecewaan. Bukan hanya lahan yang mengering, para petani bahkan telah dua kali gagal melakukan penanaman karena ketiadaan pasokan air ke area persawahan.
Hal itu disampaikan Ramli, warga setempat. Menurutnya, persoalan irigasi tersebut sebenarnya sudah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Namun, hingga kini belum ada respons maupun penanganan nyata terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Kami sudah menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah, tetapi sampai sekarang belum ada respons. Akibat tidak adanya air irigasi, petani sudah dua kali gagal tanam,” ujar Ramli, Sabtu (29/8/2026).
Kondisi itu akhirnya memaksa masyarakat mengambil langkah sendiri. Warga dari dua gampong tersebut kemudian bermusyawarah dan sepakat melakukan patungan untuk menyewa alat berat guna membuka kembali aliran air menuju areal persawahan.
Menurut Ramli, alat berat saat ini tengah bekerja di pintu air Gampong Drien Jalo untuk membuka kembali jalur aliran air yang selama ini tidak berfungsi optimal.
“Saat ini kegiatan sedang berlangsung. Alat berat sedang bekerja di pintu air Drien Jalo. Selesai dari sini, kami lanjutkan ke pintu air Roet Tengoh,” imbuhnya.
Ramli menyebut, keputusan masyarakat menyewa alat berat secara swadaya bukanlah karena persoalan tersebut tidak membutuhkan campur tangan pemerintah. Sebaliknya, langkah itu terpaksa ditempuh karena petani sudah tidak bisa lagi menunggu sementara musim tanam terus berjalan.
Ia menilai lambannya respons pemerintah telah memantik kekecewaan di tengah masyarakat, khususnya para petani yang menggantungkan kehidupan dari lahan persawahan.
“Jangan sampai masyarakat selalu disuruh memperkuat diri sendiri, tetapi ketika menghadapi persoalan seperti ini, petani justru harus berjuang sendiri,” katanya.
Menurutnya, slogan untuk memperkuat masyarakat petani akan kehilangan makna jika tidak diikuti dengan kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
Masyarakat, lanjut Ramli, berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika kegiatan panen serentak digelar. Pemerintah juga dinilai perlu hadir ketika petani menghadapi persoalan mendasar, termasuk memastikan jaringan irigasi dapat berfungsi sehingga lahan pertanian tetap produktif.
“Jangan pemerintah hanya hadir saat panen serentak. Ketika sawah kami kering dan tidak bisa ditanami, petani juga membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah,” tegasnya.
Warga berharap pembukaan kembali aliran air yang dilakukan secara swadaya tersebut dapat segera mengairi sekitar 20 hektare sawah, sehingga petani di Drien Jalo dan Roet Tengoh dapat kembali bercocok tanam dan tidak terus mengalami kerugian akibat gagal tanam.









