Blangpidie — Duka belum sempat mengering ketika kematian kembali mengetuk pintu rumah kecil itu.
Tujuh hari sebelumnya, Masrida kehilangan suaminya. Belum selesai ia menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini menjadi tempat bersandar telah dipanggil menghadap Allah SWT, kabar duka kembali datang. Kali ini, ibu kandungnya menyusul meninggal dunia.
Bagi Masrida, kehilangan itu datang berturut-turut, nyaris tanpa memberi kesempatan untuk menarik napas.
Kini ia tinggal bersama bayinya yang baru berusia sembilan bulan. Di rumah kecil di Dusun 3, Desa Kuta Jeumpa, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya, Masrida harus menjalani hari-hari dengan beban yang jauh lebih berat daripada ukuran rumah yang ditempatinya.
Tiga hari setelah kepergian sang ibu, suasana rumah itu masih diselimuti duka. Tidak banyak yang dapat dilakukan Masrida selain menerima takdir yang datang bertubi-tubi.
Di satu sisi, ia kehilangan suami. Di sisi lain, ia kehilangan ibu kandung yang selama ini menjadi bagian dari tempat ia bersandar. Sementara di hadapannya ada seorang bayi berusia sembilan bulan yang belum mengerti mengapa kehidupan ibunya berubah begitu cepat.
Rumah itu sendiri seakan ikut menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi Masrida.
Bangunannya sangat kecil. Hanya terdapat satu kamar dan ruang tamu yang luasnya sekitar dua meter. Bagian dinding rumah bahkan masih menggunakan anyaman daun kelapa. Ketika hujan turun, air dengan mudah masuk melalui celah-celah rumah.
Tidak ada ruang dapur yang layak.
Kondisi tersebut membuat persoalan Masrida bukan hanya tentang kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ada persoalan lain yang lebih sunyi: bagaimana ia dan bayinya akan menjalani kehidupan setelah dua orang yang menjadi sandaran hidupnya pergi dalam waktu berdekatan?
Kabar tentang kondisi itu kemudian sampai kepada masyarakat.
Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat Koalisi Masyarakat Pejuang Keadilan (KOMPAK), Saharuddin, bersama Keuchik Desa Kuta Jeumpa dan sejumlah tokoh masyarakat mendatangi kediaman Masrida.
Kedatangan mereka bukan sekadar untuk melihat kondisi rumah. Mereka ingin memastikan bahwa keluarga yang sedang berduka itu tidak menghadapi semuanya seorang diri.
Dalam pertemuan bersama keuchik, perangkat desa dan tokoh masyarakat, muncul harapan agar KOMPAK dapat ikut membantu Masrida dan bayinya.
Saharuddin mengatakan, pihaknya berencana membuka donasi untuk membantu memperbaiki rumah tersebut.
“Insyaallah kita akan mencoba membantu untuk membuka donasi,” ujarnya.
Rencana penggunaan dana itu diarahkan untuk merenovasi rumah sekaligus membangun dapur yang layak. Bukan kemewahan yang hendak dibangun, melainkan tempat tinggal yang lebih aman bagi seorang ibu dan bayinya.
Sebab, rumah bagi Masrida bukan sekadar bangunan. Rumah itu kini menjadi tempat ia membesarkan anaknya setelah kehilangan suami dan ibunya dalam waktu yang begitu berdekatan.
Kisah Masrida pada akhirnya bukan hanya tentang kematian.
Ia adalah cerita tentang seorang ibu yang dipaksa keadaan untuk tetap berdiri ketika dua sandaran hidupnya telah tiada. Tentang seorang bayi sembilan bulan yang masih membutuhkan pelukan ibunya, sementara sang ibu sendiri sedang berusaha menyembuhkan luka kehilangan.
Karena itu, bantuan yang datang nantinya bukan sekadar soal semen, kayu, seng atau material bangunan. Ada harapan agar Masrida dan bayinya memiliki tempat yang lebih aman untuk memulai kembali kehidupan yang telah berubah.
Masyarakat yang ingin membantu dapat menyalurkan donasi melalui:
Bank Aceh
Nomor Rekening: 090.0224012806-6
Atas Nama: MISRIDA
Bantuan juga dapat diberikan dalam bentuk material dan diantarkan langsung ke kediaman Masrida di Dusun 3, Desa Kuta Jeumpa, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya.
Di rumah kecil itu, Masrida mungkin tidak sedang meminta belas kasihan.
Ia hanya sedang berusaha bertahan.
Dan di tengah kehilangan yang datang hampir bersamaan, sedikit kepedulian dari orang lain mungkin dapat menjadi alasan bagi seorang ibu untuk kembali percaya bahwa ia tidak benar-benar sendirian.









