Takengon – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Tengah bekerja sama dengan Fakultas Syariah, Dakwah dan Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon melaksanakan penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Aceh Tengah Tahun 2026–2033, Kamis 17 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam merumuskan arah pembangunan sektor pariwisata daerah yang berkelanjutan, berbasis potensi lokal, dan berdaya saing.
Sebagai proses penyusunan dokumen, Tim Dosen IAIN Takengon selaku Tim Penyusun RIPPARKAB Aceh Tengah menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk menghimpun masukan, memvalidasi data, serta merumuskan isu strategis pembangunan kepariwisataan Kabupaten Aceh Tengah.
Kegiatan yang bertempat di Ruang Rapat Rektorat IAIN Takengon tersebut menjadi forum kolaboratif yang menghadirkan unsur pemerintah daerah, akademisi, perangkat daerah teknis, masyarakat, komunitas wisata, dan pemangku kepentingan lainnya.
Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan, MCL mengatakan, keterlibatan IAIN Takengon dalam penyusunan RIPPARKAB menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah.
Menurut Rektor, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan kajian yang mampu mempertemukan kepentingan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
“Penyusunan RIPPARKAB Aceh Tengah diharapkan mampu menghadirkan arah pembangunan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat nilai budaya lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dekan Fakultas Syariah, Dakwah dan Ushuluddin IAIN Takengon, Dr. Ahmad Sholihin Siregar, MA, menekankan bahwa pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia, kelembagaan masyarakat, serta pelestarian nilai budaya lokal.
“Pariwisata bukan hanya berkaitan dengan pembangunan destinasi secara fisik, tetapi juga membutuhkan kesiapan masyarakat sebagai pelaku utama,” jelasnya.
Ketua Tim Penyusun RIPPARKAB Aceh Tengah, Dr. Ramdansyah Fitrah, M.Si, menyampaikan, penyusunan dokumen RIPPARKAB dilakukan melalui proses kajian, inventarisasi potensi, analisis kondisi eksisting, serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, perubahan kondisi daerah dan tantangan pembangunan, termasuk dampak bencana hidrometeorologi, menjadi faktor penting yang harus menjadi perhatian dalam perencanaan pariwisata ke depan.
“Pembangunan pariwisata Aceh Tengah harus diarahkan pada konsep yang lebih komprehensif, yaitu memperkuat daya tarik wisata, meningkatkan kualitas destinasi, menjaga keberlanjutan lingkungan, memperkuat kelembagaan, serta memastikan keselamatan wisatawan,” ungkapnya.
“Penyusunan RIPPARKAB Aceh Tengah dilakukan sebagai tindak lanjut berakhirnya periode Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Aceh Tengah Tahun 2018–2025 yang sebelumnya ditetapkan melalui Qanun Kabupaten Aceh Tengah Nomor 4 Tahun 2019,” tambah Ramdansyah.
Aceh Tengah dinilai memiliki berbagai potensi unggulan, mulai dari Danau Lut Tawar, kawasan dataran tinggi, perkebunan kopi Arabika Gayo, wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata olahraga, kuliner, hingga ekonomi kreatif.
Namun, pengembangan pariwisata perlu dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti daya dukung lingkungan, risiko bencana, aksesibilitas, tata ruang, keselamatan wisatawan, serta keberpihakan kepada masyarakat lokal.
Melalui kerja sama antara Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Tengah dan Fakultas Syariah, Dakwah dan Ushuluddin IAIN Takengon, penyusunan RIPPARKAB Aceh Tengah 2026–2033 diharapkan mampu menghasilkan dokumen strategis yang menjadi pedoman pembangunan pariwisata daerah.
Dokumen tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Aceh Tengah sebagai destinasi yang memiliki daya saing, menjaga kelestarian alam, memperkuat budaya Gayo, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan pariwisata Aceh Tengah yang tangguh bencana, berbasis masyarakat, dan berkelanjutan.[]









