Banda Aceh — Tim PKMBGB USK bekerja sama dengan Aceh Climate Change Initiative (ACCI-USK) dan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh melaksanakan sosialisasi dan penguatan kelembagaan Program Kampung Iklim (ProKlim) kepada aparatur dan masyarakat Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh,25 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan PKMBGB USK yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim sekaligus memperkuat kelembagaan dan keberlanjutan aksi adaptasi dan mitigasi di tingkat gampong. Kolaborasi dengan ACCI-USK dan DLHK3 Kota Banda Aceh mempertemukan dukungan perguruan tinggi, pendampingan berbasis pengetahuan, serta pengalaman teknis pemerintah daerah dalam pelaksanaan ProKlim.
Kegiatan menghadirkan Ir. Cut Safarina Yulianti, S.T., M.M., M.T., Kepala Bidang Tata Lingkungan DLHK3 Kota Banda Aceh, sebagai narasumber dengan materi “Mengenal ProKlim dan Penguatan Kelembagaan Masyarakat.” Sosialisasi membahas perubahan iklim, peran ProKlim, serta pentingnya kelembagaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan aksi adaptasi dan mitigasi di tingkat gampong.
Dalam pemaparannya, Cut Safarina menjelaskan bahwa perubahan iklim berdampak langsung hingga tingkat lokal melalui berbagai risiko, seperti banjir, cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta perubahan pola cuaca. Karena itu, upaya adaptasi dan mitigasi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas.
“ProKlim bukan hanya tentang kegiatan lingkungan, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kelembagaan yang kuat, mampu mengenali persoalan di wilayahnya, menyusun aksi adaptasi dan mitigasi, serta menjaga keberlanjutannya secara bersama-sama,” ujar Cut Safarina.
Konteks tersebut memiliki relevansi kuat bagi Gampong Alue Deah Teungoh sebagai salah satu kawasan pesisir Kota Banda Aceh. Tantangan lingkungan yang dihadapi antara lain banjir dan rob, persoalan sampah dan sanitasi, kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta tekanan terhadap ekosistem pesisir.
Penguatan Kelembagaan sebagai Pondasi Aksi Iklim
Salah satu fokus utama sosialisasi adalah penguatan kelembagaan masyarakat. Dalam konteks ProKlim, kelembagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakkan aksi iklim di tingkat gampong, mulai dari mengidentifikasi persoalan lingkungan, menyusun rencana kegiatan adaptasi dan mitigasi, melaksanakan aksi, hingga mendokumentasikan capaian secara sistematis.
Dalam pembentukan kelembagaan ProKlim, aspek legalitas dan keterwakilan masyarakat menjadi bagian penting. Materi sosialisasi menekankan perlunya legalitas melalui Surat Keputusan (SK) Keuchik serta keterwakilan unsur masyarakat, termasuk pemuda, tokoh agama, dan perempuan.
Struktur organisasi yang jelas, yang mencakup ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang teknis sesuai kebutuhan, diperlukan agar pembagian peran, koordinasi, dan pengelolaan program dapat berjalan secara efektif.
Sesi diskusi menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai penerapan ProKlim dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pembahasan mencakup peran kelembagaan dalam mengelola program, mengidentifikasi masalah lingkungan, menyusun rencana aksi, serta melakukan pencatatan dan pengelolaan data sebagai bagian dari proses pelaksanaan dan evaluasi ProKlim.
Cut Safarina juga menjelaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menjaga keberlanjutan program. DLHK3 berperan memberikan dukungan dan pendampingan teknis, sementara pemerintah gampong, masyarakat, perguruan tinggi, mahasiswa, organisasi masyarakat, dan pihak lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung pelaksanaan ProKlim.
Kelembagaan masyarakat diharapkan dapat menjadi penghubung antara aspirasi warga dan kebijakan pemerintah sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mendorong praktik-praktik ramah lingkungan di tingkat gampong.
PKMBGB USK Mendorong Penguatan Kapasitas Masyarakat
Sebagai pelaksana utama kegiatan, Tim PKMBGB USK menempatkan penguatan kapasitas masyarakat sebagai bagian penting dalam mendukung keberlanjutan aksi iklim di tingkat lokal.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman masyarakat, serta dukungan teknis dari pemerintah daerah. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai ProKlim, tetapi juga memiliki ruang untuk memahami persoalan lingkungan di wilayahnya dan mengidentifikasi kebutuhan penguatan kelembagaan serta aksi yang dapat dikembangkan.
Irfan Zikri, Anggota Tim PKMBGB USK, mengatakan bahwa penguatan ProKlim perlu dipahami sebagai proses membangun kapasitas masyarakat, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan lingkungan.
“Yang penting bukan hanya bertambahnya kegiatan lingkungan, tetapi bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan, kelembagaan, dan kemampuan untuk mengelola aksi tersebut secara berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra yang mendukung proses tersebut melalui penguatan pengetahuan, pendampingan, dokumentasi, dan pembelajaran bersama masyarakat,” ujar Irfan.
Menurut Irfan, keberlanjutan ProKlim juga membutuhkan keterhubungan antara aksi masyarakat dengan tata kelola gampong. Kelembagaan yang kuat dapat membantu memastikan berbagai inisiatif masyarakat terdokumentasi, memiliki pembagian peran yang jelas, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Kolaborasi dengan ACCI-USK dan DLHK3 Kota Banda Aceh menjadi bagian penting dalam proses tersebut. ACCI-USK memberikan dukungan melalui pengalaman dan pengetahuan dalam isu perubahan iklim serta pendampingan berbasis masyarakat, sedangkan DLHK3 memberikan perspektif teknis dan kebijakan terkait pelaksanaan ProKlim di Kota Banda Aceh.
Mahasiswa KKN Tematik Mendukung Pembelajaran Lapangan
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa KKN Tematik USK Tahun 2026 yang sedang melaksanakan pendampingan di Gampong Alue Deah Teungoh. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran lapangan sekaligus mendukung kegiatan masyarakat dalam bidang lingkungan dan perubahan iklim.
Zubair Ba’alawi, mahasiswa KKN Tematik USK dari Program Studi Teknik Kimia, mengatakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ProKlim memberikan pengalaman langsung dalam memahami persoalan lingkungan di tingkat masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami tidak hanya belajar tentang ProKlim dari sisi teori, tetapi juga melihat bagaimana pengelolaan lingkungan membutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah gampong, pemerintah kota, dan perguruan tinggi. Kami berharap dapat ikut mendukung kegiatan yang sudah berjalan sekaligus belajar dari pengalaman masyarakat di Gampong Alue Deah Teungoh,” kata Zubair.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa juga memperkuat fungsi KKN Tematik sebagai ruang pembelajaran kolaboratif, di mana mahasiswa dapat belajar dari masyarakat sekaligus berkontribusi dalam mendukung proses penguatan kapasitas dan aksi lingkungan di tingkat gampong.
Memperkuat Posisi Alue Deah Teungoh dalam ProKlim
Gampong Alue Deah Teungoh memiliki posisi penting dalam pengembangan ProKlim di Kota Banda Aceh. Dalam materi sosialisasi disebutkan bahwa Alue Deah Teungoh telah menjadi Lokasi ProKlim Utama sejak 2022 dan direncanakan untuk diusulkan sebagai calon Lokasi ProKlim Lestari pada 2027.
Posisi tersebut menjadikan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat sebagai bagian penting untuk menjaga kesinambungan berbagai aksi adaptasi dan mitigasi yang telah dilakukan.
Penguatan ProKlim membutuhkan proses yang sistematis, mulai dari musyawarah warga, identifikasi dan pengumpulan data, dokumentasi aksi adaptasi dan mitigasi, penguatan kelembagaan, hingga proses pengusulan melalui DLHK3 Kota Banda Aceh ke Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI).
Dalam konteks tersebut, keberlanjutan ProKlim tidak hanya bergantung pada jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dan kelembagaan gampong untuk mengelola pengetahuan, data, peran, serta dokumentasi aksi secara konsisten.
Kolaborasi untuk Ketahanan Iklim Berbasis Gampong
Kegiatan sosialisasi dan penguatan kelembagaan ini memperkuat kolaborasi antara Tim PKMBGB USK sebagai pelaksana utama, ACCI-USK dan DLHK3 Kota Banda Aceh sebagai mitra kolaborasi, serta Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh, masyarakat, dan mahasiswa KKN Tematik USK tahun 2026.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat, kelembagaan ProKlim, dokumentasi aksi, dan keberlanjutan berbagai inisiatif adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat gampong.
Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, ProKlim diharapkan dapat berkembang sebagai bagian dari tata kelola lingkungan dan pembangunan gampong. Penguatan kelembagaan menjadi salah satu fondasi agar masyarakat dapat secara aktif mengenali risiko iklim, mengembangkan aksi yang sesuai dengan kondisi lokal, serta menjaga keberlanjutan manfaatnya.
Upaya tersebut sekaligus mendukung penguatan ketahanan iklim Kota Banda Aceh melalui aksi berbasis masyarakat, dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, mahasiswa, dan masyarakat memainkan peran yang saling melengkapi.









