BIREUEN- Senin (28/9/2026) menjadi hari yang membanggakan bagi Pesantren Modern Al Zahrah. Tiga santrinya berhasil menorehkan prestasi baru dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) Tingkat Aliyah se-Kabupaten Bireuen di MAN 2 Bireuen.
Bukan sekadar soal juara, tapi tentang cerita di baliknya. Tentang persiapan yang singkat, rasa tidak percaya diri, hingga kejutan yang berujung haru.
Cerita pertama datang dari Humairah. Santri kelas 5B itu meraih Juara 1 cabang Pidato Bahasa Arab.
Putri kelahiran Bireuen, 3 Mei 2010 ini harus bersaing dengan sekitar 14 peserta terbaik dari madrasah se-Kabupaten Bireuen. Menariknya, seumur hidupnya ia baru dua kali mengikuti lomba pidato bahasa Arab. Pertama, Juara 2 pada lomba MTQ di Dayah Darussa’adah tahun 2026. Kedua, di AKSIOMA Kemenag Bireuen inilah ia meraih Juara 1.
Di balik piala itu, persiapannya terbilang mepet. Sebagai pengurus organisasi santri, Humairah hanya sempat berlatih selama satu minggu sebelum tampil di panggung lomba.
“Awalnya kurang yakin bakal dapat juara, ternyata juara 1. Saya terharu, sangat bersyukur atas prestasi ini,” ungkap santri yang gemar menulis cerpen itu.
Atas prestasi ini, Humairah dipastikan melaju ke tingkat Provinsi untuk bersaing dengan peserta se-Aceh. Ia pun optimis akan menyiapkan latihan yang lebih intensif dan bersungguh-sungguh.
Kejutan kedua datang dari cabang Kaligrafi Kontemporer Putra. Amryandani, santri kelas 3 Intensif KMI kelahiran Takengon, 16 Februari 2010, meraih Juara 2.
Putra dari Bapak Sufyan dan Ibu Sumiati ini tampil selama 5 jam penuh bersama 8 peserta lainnya dan meraih skor 88. Padahal, ini adalah kali pertama ia mengikuti cabang kontemporer.
Amryandani mengaku dulu hanya pernah belajar khat naskhi selama 3 bulan saat kelas 1 SMP di Takengon. Untuk jenis kontemporer, ia baru belajar empat hari bersama gurunya, Ustaz Syauqi di Pesantren Modern Al Zahrah tempatnya menimba ilmu sekarang.
“Awalnya saya enggak nyangka dapat juara, padahal baru pertama kali ikut cabang ini,” kata santri peraih medali perak Azzanjabil Championship of Tapak Suci (ACTS) 2026 itu.
Ia berharap prestasinya menjadi pemantik.
“Karena kaligrafi kontemporer jarang diminati dan tergolong sulit. Saya ingin lebih banyak lagi santri Al Zahrah yang menekuni bidang kaligrafi,” ujarnya.
Prestasi di cabang yang sama kategori putri juga diraih Fira Faradisa. Santri kelas 4B KMI kelahiran Bireuen, 4 Oktober 2011, putri pertama dari pasangan Muhammad Yusri dan Nisrawati dari 3 bersaudara ini, meraih Juara 2 Kaligrafi Kontemporer Putri.
Fira berhasil menyisihkan sekitar 10 peserta lain. Sama seperti Amryandani, ini juga pengalaman pertamanya. Persiapannya hanya lima kali latihan sejak masuk kelas ekstrakurikuler.
“Awalnya saya hampir tidak percaya, soalnya baru pertama ikut,” tuturnya dengan bahagia dan sedikit kaget.
Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Dr. Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., menyampaikan selamat dan pesan agar tidak berpuas diri.
“Jangan merasa puas dengan apa yang telah diraih selama ini, teruslah berlatih dan mengembangkan diri menjadi lebih baik,” pesannya.
Tiga piala dari Bireuen ini menjadi bukti, di Al Zahrah prestasi tidak lahir secara kebetulan. Ia lahir dari keberanian untuk mencoba, bahkan untuk pertama kalinya.









