Tamiang – Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Mukhlisin Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang terpaksa memulangkan santri menyusul datangnya banjir setinggi 50 centimeter yang kembali merendam tempat pendidikan Islam tersebut sejak Minggu (11/10).
“Aktivitas belajar masih bisa dilakukan, cuma kita khawatir seperti tahun lalu. Makanya kita pulangkan dulu,” kata Ketua Pengasuh santri putra Ponpes Darul Mukhlisin Ustadz Saiful, di Aceh Tamiang, Senin.
Untuk diketahui, Ponpes Darul Mukhlisin ini merupakan pesantren yang sempat viral saat bencana hidrometeorologi November 2025 lalu karena dipenuhi kayu-kayu banjir bandang. Hingga akhirnya dibersihkan oleh pemerintah.
Saiful mengatakan, banjir mulai memasuki area pesantren menjelang subuh. Saat itu, para santri tengah menjalankan kegiatan rutin seperti membaca Al Quran serta membersihkan ruangan dan halaman sekitar.
“Paginya air sudah mengepung halaman masjid dan asrama pria sehingga tidak ada aktivitas belajar mengajar hari ini. Tapi untuk asrama putri masih aman,” ujarnya.
Menurutnya, para santri dan pengurus (mudir) tidak terlalu panik saat air mulai naik, karena banjir merupakan peristiwa yang kerap terjadi setiap tahunnya.
Kendati demikian, pihak pesantren memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar demi keamanan dan mengantisipasi terulangnya musibah banjir bandang seperti akhir November 2026 lalu.
Saiful menuturkan, banjir ini terjadi akibat luapan air dari sungai di bagian hulu, yakni dari kawasan Tenggulun dan Simpang Jernih, menyusul curah hujan tinggi. Bahkan, air dari hulu di Simpang Jernih terpantau masih belum surut.
Saat ini, ponpes yang menaungi sekitar 160 lebih santri putra dan putri tersebut masih lumpuh. Fasilitas seperti area olahraga dan ruangan tertutup genangan air serta sisa material balok dari banjir sebelumnya.
Terkait proses pemulangan, pihak pesantren menyerahkan para santri kepada orang tua masing-masing yang datang menjemput.
Sementara, bagi santri yang berasal dari daerah jauh, pihak ponpes memberlakukan sistem pendampingan khusus guna memastikan mereka tiba di rumah dengan selamat di tengah kondisi cuaca ekstrem. Dan belum bisa dipastikan sampai kapan masa libur darurat ini.
“Keputusan lanjutan mengenai kembalinya para santri ke asrama akan menunggu hingga kondisi air benar-benar surut dan situasi dinyatakan aman,” demikian Saiful.










