Matahari Kembar dari Pase
Lhokseumawe 2006
Hari masih pagi. Jarum jam menunjukan pukul 08.15 WIB. Tapi Jalan Lintas Banda Aceh-Medan di Krueng Geukuh sudah terlihat macet. Sejumlah truk pengantar bantuan antri memanjang hingga depan pabrik KKA. Konvoi itu hendak mengarah ke Banda Aceh untuk mengantar bantuan kemanusiaan.
Sejumlah bangunan bekas hantaman gelombang Tsunami masih terlihat jelas dari jalan raya. Para pemiliknya mungkin sudah lama meninggal atau pindah ke barak pengungsian.
Di Simpang Krueng Geukuh, para pengendara roda dua berulangkali menerobos lampu merah tanpa peduli keselamatan. Para ibu-ibu seolah tak peduli dengan kendaraan besar di belakang mereka. Ibu-ibu ini tak mengenakan helm dan justru mengendara dengan santai di jalan tengah.
Suara klakson dari truk besar berulang kali berbunyi. Ia seperti meminta ibu-ibu tadi supaya mengendara di pinggir sisi kiri agar tak menghalangi truk besar serta tersenggol hingga jadi korban lakalantas.
Tapi pengendara ibu-ibu tadi justru terlihat sewot dan marah marah.
“Hei, kapike dikah nyoe jalan nek keuh (Hei, kamu pikir ini jalan punya nenekmu-red},” ujar serapah sang ibu dari arah depan. Sedangkan sang sopir truk, kulihat, cuma geleng-geleng kepala.
Dari atas RX King, aku tersenyum melihat ulah para pengendara ini. Pemandangan seperti ini adalah hal yang langka terjadi di Yogyakarta. Ketertiban dan keselamatan adalah hal yang utama.
“Aku sepertinya mulai merindukan kota itu,” gumamku dalam hati.
Raut wajah cantik milik Rani tiba-tiba terlintas dalam pikiran. Tapi aku buru-buru membuyarkan lamunan tersebut dan focus pandangan kembali ke jalan raya. “Tok, aku sekarang sudah memiliki Muti di Aceh.”
Dari sisi kiri, aku memacu RX King pinjaman Bang Yan ke arah laut. Di sana ada sebuah Warkop di sudut jalan. Dari arah kejauhan, Rambo terlihat melambai berulangkali.
Warkop ini milik saudara Rambo. Kami memberi nama sandi Rambo karena sosok tadi bertubuh kekar layaknya actor Sylvester Stallone.
Setelah damai, warung ini seakan menjadi lokasi wajib bagi kami eks Tentara Nanggroe untuk berkumpul bersama. Sekedar bernostalgia bagi eks pasukan di bawah komando-ku.
Aku kemudian memarkir RX King di tempat yang agak teduh. Kuletakan helm batoh milikku dengan hati-hati di atas RX King.
“Kau pakai helm Pakwa? Takut ditangkap polisi?” ujar Rambo saat mendekat dengan nada setengah mengejekku.
Aku cuma tersenyum mendengar candaan Rambo. “Memakai helm bukan karena takut polisi. Tapi takut terjadi lakalantas dan kepala-ku hancur terbentur aspal,” kataku kemudian.
[Bersambung]
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





