Aku mengikuti langkah Rambo memasuki Warkop hingga menuju ke arah belakang. Lokasi yang kami tuju memang disiapkan secara khusus oleh sang pemilik warung. Tiga meja dan 10 kursi tertata rapi. Jaraknya jauh dari area utama kedai serta tak menarik perhatian jika ada tentara nanggroe yang tiba tiba berdebat atau berkelahi.
Di sini, juga ada balai kecil yang digunakan para pelanggan untuk salat ketika jadwal tiba. Ada Dekgam dan Rusli di sana. Mereka menyambut kedatanganku dan Rambo ala hormat komando.
Aku tertawa melihat tingkah mereka.
“Kita sudah damai. Tak perlu lagi ala tentara. Aku dan kalian sekarang berstatus sama dan setara,” ujarku sambil meraih kursi dan duduk di tengah tengah mereka.
Dekgam dan Rusli masih berdiri kaku dengan posisi hormat militer. Perkataanku dianggap angin lalu.
Untung Rambo dari arah belakang memberi isyarat agar keduanya kembali duduk ke lokasi semula.
“Aku maunya juga begitu, Pakwa. Tapi badanku langsung gerak sendiri begitu lihatmu dan Bang Rambo muncul. Sudah setahun damai, aku seperti merasa masih di kamp,” kata Rusli polos.
“Aku takut kau menghukumku untuk guling-guling di tanah jika tak taat perintah,” ujarnya lagi.
Mendengar hal ini, aku tersenyum lebar. Rusli memang paling sering kuberi hukuman selama di kamp saat kami bergerilya. Mulai dari mandi lumpur hingga tak boleh makan selama sehari. Ini karena ia sering keluar kamp tanpa izin.
Ia berulangkali keluar kamp dan menghadang konvoi tentara republic guna menuntut keadilan atas meninggalnya Rahmad. Terkadang ia kembali ke kamp dengan luka tembak yang serius. Rusli persis seperti Bang Leman semasa hidup.
Ya, Rusli masuk tentara menggantikan almarhum abangnya. Aku mendidiknya keras agar dia tak mudah mati selama fase perlawanan. Tapi ia adalah murid yang melebihi guru.
Didikan tersebut cukup berhasil. Ia berhasil lolos dalam sejumlah pengepungan. Pemuda itu seperti memiliki seribu nyawa. Padahal sekilas ia terlihat seperti pemuda biasa yang baru masuk kuliah. Tapi bagi orang yang terlatih, mereka pasti sadar kalau pemuda bertubuh kurus ini memiliki aura membunuh yang sangat pekat.
“Kalian masih latihan?” tanyaku. Rusli dan Dekgam mengangguk serentak.
“Apakah kalian juga masih membawa alat berat atau senjata?” tanyaku lagi.
“Aku masih membawa pisau. Kalau kalau terjadi sesuatu, aku masih punya alat untuk melawan,” kata Dekgam.
Sedangkan Rusli terdiam. Aku mengerti yang dipikirkan pemuda itu. Pandanganku kemudian beralih ke Rambo sambil mengedip mata dua kali dan pria kekar itu kemudian mengangguk tanda mengerti. Kode ini hanya kami berdua yang mengerti.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





