BIREUEN – Siang itu menjadi penentu takdir baru bagi Ismandani Wahidin. Ia akan dinilai oleh juri lomba cabang tilawah yang ia ikuti. Namun, kali ini penampilannya berbeda dengan lomba-lomba yang pernah ia ikuti di kampung halaman.
Suaranya direkam hanya lewat video ponsel milik ustaznya di sebuah ruangan yang jauh dari keramaian. Pada Rabu (14/10/2026), di ruang kepala madrasah, tepat pukul 12.00 WIB, lantunan tilawahnya yang berdurasi empat menit dikirim melalui WhatsApp ke panitia.
Pada sore hari yang sama, panitia kembali menghubungi pelatihnya, Ustaz Riza Mulia. Ismandani Wahidin dinyatakan lulus seleksi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kecamatan Paya Bakong.
Penampilannya dinilai unggul karena bacaan tanpa kesalahan tajwid, napas yang terjaga, dan ketepatan wakaf ayat sesuai persiapan latihan, meskipun penguasaan irama tilawahnya masih tergolong baru.
Kepastian tersebut kemudian diperkuat melalui surat resmi Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, yang ditandatangani ketuanya, Tgk. H. Razali, pada 16 Oktober 2026. Dalam surat itu, Ismandani Wahidin resmi menyandang gelar Juara 1 dan akan mewakili Kecamatan Paya Bakong di tingkat kabupaten.
“Assalamu’alaikum Tgk, untuk Ismandani akan mewakili Kecamatan Paya Bakong di MTQ tingkat Kabupaten Aceh Utara, silakan diperdalam lagi irama-irama tilawahnya,” tulis panitia melalui pesan WhatsApp kepada Ustaz Riza.
Bagi santri kelahiran 4 November 2013 ini, raihan juara bukanlah yang pertama.
Putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Ismail Yusuf dan Asniah ini memang tumbuh bersama lantunan ayat suci. Pecinta selawat dan zikir Aceh itu juga sudah belajar tilawah sejak kelas 3 MIN bersama guru ngajinya di kampung.
Jejak prestasinya sudah terlihat sejak duduk di bangku MIN 20, yakni Juara 1 Tilawah Antarkelas saat kelas 5, serta Juara 1 Azan dan Tahfiz saat kelas 6 di Balai Pengajian Rumoh Iqra.
Selepas MIN, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Pesantren Modern Al Zahrah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Di sinilah bakatnya kembali ditempa. Setiap Ahad setelah Subuh berjamaah, ia bersama belasan santri lain rutin belajar di ruang majelis guru yang dibimbing Ustaz Riza Mulia.
“Ismandani Wahidin hampir tidak pernah menolak saat diminta membaca dengan langgam nada tilawah,” kenang Ustaz Riza.
Ismandani selalu berani mencoba, sekalipun belum sepenuhnya menguasai irama tilawah yang dipelajarinya.
“Karena keberaniannya itu, saya turut semakin semangat mengajar,” tambahnya.
Baru sekitar satu bulan mendalami tilawah di Al Zahrah, keberanian itu berbuah. Tampil percaya diri secara virtual, ia berhasil mengharumkan nama pesantren dan kampung halamannya.
Bagi Ismandani Wahidin, tilawah bukan sekadar lomba.
“Suka dengan irama-irama tilawah serta menambah rasa cinta kepada Al-Qur’an,” ujar santri yang bercita-cita menjadi ustaz itu.
Kini langkahnya masih panjang. Panggung MTQ tingkat Kabupaten Aceh Utara telah menanti. Dari majelis subuh yang sederhana di Al Zahrah, suara Ismandani Wahidin bersiap menggema lebih jauh.









