Menjelang sore, suasana di ruang pertemuan kian memanas. Di saat bersamaan, beberapa nomor dari luar negeri juga muncul di layar handphone milikku. Beberapa di antaranya berasal dari Swedia dan Denmark.
Namun karena sibuk, aku tak melihat semua panggilan tadi. Aku sempat kalang kabut saat melihat sejumlah panggilan antar negara yang tak terjawab tersebut.
Aku memberi tahu soal panggilan tersebut kepada Bang Yan saat kami bertemu di ruang makan hotel. Namun Bang Yan cuma tersenyum.
“Kalau kamu disuruh memilih, dukung teman sendiri atau pengikut partai nasional di pilkada nanti?” ujar Bang Yan.
“Mereka menelpon-ku. Tapi tak ku-angkat. Makanya, mungkin sekarang mereka menyasar-mu,” kata Bang Yan lagi sambil menghabiskan sisa nasi di piringnya-nya.
Ia kemudian bergegas masuk ke ruang pertemuan. Pernyataan Bang Yan ini semakin menguatkan asumsi-ku bahwa para petinggi di Swedia kemungkinan besar telah memiliki calon untuk pilkada Aceh di akhir 2006 nanti. Calon ini kemungkinan telah diketahui oleh pimpinan wilayah.
Pertemuan di Hotel Cakra Donya kemungkinan besar adalah bentuk protes atas status calon tersebut.
Penjelasan tersebut juga mengungkap sikap politik Bang Yan kedepan. Ini juga akan menjadi sikap politik dari kami, eks pasukan pengawal kantor wilayah Pase.
“Kemungkinan besar, elit di Swedia akan tetap bertahan dengan calon yang sudah diputuskan. Tapi bagaimana aku meresponnya jika mereka menelpon lagi,” gumamku dalam hati.
Selang satu jam, Rambo dan Dani tiba-tiba mengetuk pintu kamar hotel yang aku tempati. Wajah mereka terlihat panik. Saat itu, aku sedang rebahan di kasur.
“Pakwa. Pasukan kita disuruh tarik segera dari hotel dan pulang ke Pase,” kata Rambo, begitu masuk.
“Tentara dari wilayah lain juga sudah mundur,” kata Dani melanjutkan.
Aku cuma terdiam mendengar penjelasan Rambo dan Dani.
“Kalian sudah bertanya pada Bang Yan?” tanyaku. Keduanya menggeleng.
“Ya sudah. Tugas kita mengawal acara ini hingga selesai. Kalau nanti ada yang disalahkan, aku-lah yang bertanggungjawab. Aku yang membawa kalian ke sini. Tetap pada garis komando,” ujarku.
Rambo mengangguk dan segera berlari keluar kamar. Sementara Dani memandang sekeliling dengan mimik wajah kesal.
“Dari dulu, aku tahu kalau Kau mendapat perlakuan istimewa dari Bang Yan. Tapi baru sekarang, aku melihat dengan mata kepala sendiri,” kata Dani kemudian.
Perkataan Dani, kubalas dengan senyum sembringah. “Tak usah kesal. Kalau mau tidur, tidur saja,” balasku. Ia kemudian merebahkan diri sambil mencoba memelukku.
“Oh, Bang Musa tersayang. Dek Muti kangen,” ujarnya meniru suara perempuan. Candaan itu aku tanggapi dengan lemparan bantal ke arahnya.
Kami rebahan di sana lebih dari satu jam.
Saat aku kembali ke ruang pertemuan. Forum terlihat dalam keadaan buntu. Untuk meredam perpecahan internal yang semakin meruncing pasca-mundurnya Tgk. Nashiruddin, Majelis GAM memutuskan bahwa secara organisasi GAM menyatakan tidak ikut serta atau tidak mengusung calon resmi dalam Pilkada 2006.
Petinggi yang hadir memilih fokus pada persiapan pembentukan partai politik lokal untuk pemilu berikutnya tapi membebaskan kadernya secara personal jika ingin maju.
Melihat kebuntuan politik tersebut, kelompok muda eks-kombatan GAM bersama presidium SIRA melakukan manuver cepat. Irwandi Yusuf, senior perwakilan GAM di Aceh Monitoring Mission, maju menggantikan posisi Teungku Nas untuk berpasangan dengan Muhammad Nazar.
Akhirnya, para pengusung Irwandi-Nazar sepakat memilih jalur independen (perseorangan) pada Pilkada 2006.
[Bersambung]
Baca juga
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)









