BANDA ACEH — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh sukses menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Kolaborasi yang dirangkaikan dengan baiat 63 peserta di Aula Kampus STAI Nusantara Banda Aceh, 25 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kaderisasi dan memperluas kolaborasi mahasiswa lintas perguruan tinggi.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi empat komisariat PMII, yakni Komisariat PMII Universitas Serambi Mekkah, Komisariat PMII Universitas Syiah Kuala, Komisariat PMII UIN Ar-Raniry, dan Komisariat PMII Institut Nahdlatul Ulama Aceh.
MAPABA Kolaborasi tersebut melibatkan delegasi mahasiswa dari 10 perguruan tinggi, yaitu Universitas Serambi Mekkah, Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, Institut Nahdlatul Ulama Aceh, Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Universitas Abulyatama, Poltekkes, STAI Nusantara, STAI Teungku Chik Pante Kulu, dan Al Washliyah.
Kegiatan ini menjadi ruang pengenalan nilai-nilai dasar PMII sekaligus upaya membangun kesadaran mahasiswa tentang pentingnya kaderisasi, pengembangan kapasitas intelektual, dan tanggung jawab sosial. Kolaborasi antarkomisariat juga diharapkan memperkuat solidaritas kader serta membuka ruang kerja sama dalam membangun gerakan mahasiswa yang progresif dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Sekretaris Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) Kota Banda Aceh sekaligus Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Kota Banda Aceh, Akmaluddin, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan tanggung jawab akademik.
Ia mengingatkan bahwa mahasiswa harus mampu menjadikan organisasi sebagai ruang belajar dan pengembangan diri tanpa mengabaikan kewajiban utama dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi semestinya memperkuat kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mahasiswa dalam mengelola waktu dan menentukan prioritas.
“Seluruh peserta harus mampu berkembang melalui organisasi tanpa meninggalkan tanggung jawab akademik. Berorganisasi bukan berarti mengabaikan perkuliahan, melainkan menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab. Karena itu, kader PMII harus mampu mengatur waktu dengan baik agar aktivitas organisasi berjalan beriringan dengan prestasi akademik,” demikian pesan Akmaluddin dalam sambutannya.
Ia juga berharap kader PMII dapat menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi tetap mampu menjaga kualitas akademiknya. Keduanya harus ditempatkan secara proporsional agar proses pendidikan dan pengalaman berorganisasi dapat saling mendukung dalam membentuk pribadi yang matang, berintegritas, dan bertanggung jawab.
Ketua PC PMII Kota Banda Aceh, Muhammad Idris, menegaskan bahwa organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya memiliki peran penting dalam membentuk mahasiswa yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan di tengah masyarakat.
Menurut Idris, organisasi merupakan ruang pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan, manajemen waktu, kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, serta keterampilan dalam menyelesaikan persoalan.
Namun, seluruh proses tersebut harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab akademik yang melekat pada diri setiap mahasiswa.
“Organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan dua unsur yang dapat berjalan beriringan untuk mencapai tujuan yang sama. Organisasi adalah jembatan untuk mengembangkan kapasitas diri, sedangkan tanggung jawab akademik tetap menjadi bagian penting dari tujuan kita sebagai mahasiswa. Karena itu, kita harus mampu memahami dan menempatkan keduanya secara proporsional,” tegas Muhammad Idris.
Ia menambahkan, kader PMII harus memiliki kesadaran bahwa keterlibatan dalam organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan perkuliahan, menunda tugas, ataupun melalaikan tanggung jawab pendidikan.
“Di organisasi, kita belajar mengelola waktu, membangun kepemimpinan, mengembangkan keterampilan, menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan. Semua pengalaman itu seharusnya memperkuat kualitas kita sebagai mahasiswa, bukan justru menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban akademik. Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus organisasi, tetapi lupa terhadap tanggung jawab utama sebagai mahasiswa,” lanjutnya.
Idris juga menekankan bahwa keberhasilan kader tidak cukup diukur dari jabatan yang diemban atau banyaknya kegiatan yang diikuti. Lebih dari itu, keberhasilan kaderisasi harus tercermin dalam kualitas intelektual, integritas, kedisiplinan, dan kemampuan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia berharap 63 peserta yang mengikuti MAPABA Kolaborasi dapat menjadikan PMII sebagai ruang untuk bertumbuh, memperluas wawasan, dan mengembangkan potensi diri tanpa kehilangan orientasi akademik.
Perkuat Kaderisasi dan Kolaborasi Lintas Kampus
MAPABA merupakan tahapan awal kaderisasi formal PMII yang bertujuan memperkenalkan identitas, nilai dasar, tujuan, dan tanggung jawab keanggotaan kepada mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya mengenal PMII sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi juga memahami perannya sebagai insan akademis yang memiliki tanggung jawab intelektual, sosial, dan kebangsaan.
Keterlibatan mahasiswa dari 10 perguruan tinggi menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai latar belakang keilmuan, pengalaman, dan perspektif. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperluas pertukaran gagasan, memperkuat solidaritas antarmahasiswa, serta mendorong lahirnya gerakan kolektif yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.
Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan MAPABA Kolaborasi ini, PC PMII Kota Banda Aceh sedang merencanakan program pendampingan bagi seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan. Program tersebut akan dilaksanakan secara berkelanjutan hingga tuntas, sehingga proses kaderisasi tidak berhenti pada penerimaan anggota baru dan baiat, tetapi berlanjut melalui pembinaan, penguatan pemahaman keorganisasian, kajian intelektual, serta pengembangan kapasitas kader.
PC PMII Kota Banda Aceh berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi para anggota baru untuk melanjutkan proses kaderisasi melalui diskusi, kajian intelektual, kegiatan sosial, serta berbagai forum pengembangan kapasitas lainnya. Melalui program pendampingan tersebut, seluruh peserta diharapkan memperoleh ruang untuk terus berproses, berkembang, dan mempersiapkan diri mengikuti tahapan kaderisasi PMII selanjutnya.
Melalui MAPABA Kolaborasi dan baiat 63 peserta ini, PMII Kota Banda Aceh menegaskan komitmennya untuk mendorong kaderisasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan anggota, tetapi juga pada pembentukan kader yang berintegritas, berpengetahuan, berkarakter, dan mampu menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan pengabdian organisasi.
PMII Kota Banda Aceh meyakini bahwa kaderisasi yang berkualitas harus mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga unggul dalam intelektualitas, matang dalam kepemimpinan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.










