Jakarta – Pernyataan Kedutaan Besar China yang menyebut benda diduga peluru artileri seberat 32 kilogram sebagai “botol anggur berbentuk cangkang” di Papua Nugini menuai sorotan dan ejekan di media sosial.
Benda yang diduga merupakan amunisi militer tersebut ditemukan di sebuah kontainer pengiriman di lokasi konstruksi di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, pekan lalu. Polisi setempat kemudian menangkap empat warga negara China terkait penemuan tersebut.
Kedutaan Besar China di Port Moresby mengeklaim benda itu merupakan botol anggur berbentuk cangkang yang sama sekali tidak berbahaya.
Dalam unggahan di Facebook, Kedutaan China menegaskan bahwa negaranya menerapkan sejumlah undang-undang dan peraturan pengendalian senjata api paling ketat di dunia. Aturan tersebut membuat penyelundupan peluru artileri ilegal dari China “hampir mustahil” dilakukan.
Namun, laporan stasiun penyiaran ABC Australia menyebut benda tersebut merupakan proyektil artileri Tipe 59 buatan China berkaliber 130 milimeter yang belum meledak.
Mengutip sejumlah sumber, ABC melaporkan proyektil tersebut mengandung bahan peledak kimia dan dilengkapi sumbu. Aparat mengidentifikasi benda itu menggunakan mesin sinar-X yang merupakan sumbangan Australia kepada Kepolisian Kerajaan Papua Nugini.
Kedutaan China mengatakan pihaknya terus memberikan informasi kepada kepolisian setempat dan menunggu hasil penyelidikan.
Pernyataan China yang menyebut benda tersebut sebagai botol anggur kemudian memicu berbagai komentar bernada sindiran di media sosial.
“Botol anggur jenis apa yang beratnya 32 kilogram?” tulis seorang pengguna Facebook, seperti dikutip The Independent.
“Itu botol anggur paling meledak yang pernah saya lihat,” komentar pengguna lainnya.
Seorang pengguna media sosial China juga menyindir pernyataan tersebut dengan mengatakan Beijing kini berusaha menipu masyarakat di luar negeri setelah sebelumnya menipu warga di dalam negeri.
Insiden ini terjadi ketika China dan Amerika Serikat (AS) tengah bersaing memperluas pengaruh di kawasan Pasifik.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan hubungan Beijing dengan negara-negara kepulauan Pasifik bukan bagian dari persaingan geopolitik.
“Keterlibatan China dengan negara-negara kepulauan Pasifik adalah bentuk kerja sama Selatan-Selatan yang didasarkan pada saling membantu dan mendukung,” katanya saat bertemu delegasi negara-negara Pasifik bulan lalu.
Hubungan China dan Papua Nugini sendiri telah terjalin selama 50 tahun. Kedua negara memperingati hubungan diplomatik tersebut pada September.
Perayaan itu berlangsung beberapa bulan setelah Papua Nugini menutup kantor perwakilannya di Taiwan.
China memuji langkah tersebut dan menyatakan siap melanjutkan kerja sama dengan Papua Nugini, termasuk saling mendukung dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti kedua negara.
Beijing selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. China juga tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut ke bawah kendalinya.









