Banda Aceh – Mahasiswa Modul Nusantara (MN) PMM4 Universitas Syiah Kuala (USK), Kelompok Seulanga, berkumpul untuk menjelajahi kawasan Kota Tua Koetaraja, menggali transformasi lini masa sejarah Kota Banda Aceh pada Sabtu, 2 Maret 2024.
Dalam kegiatan ini, 28 mahasiswa yang tergabung dalam MN Kelompok Seulanga, dipandu Dr. Irfan Zikri, Dosen Pembimbing MN Kelompok Seulanga. Mereka menjelajahi situs-situs sejarah, mulai dari masa kesultanan hingga era kolonial, hingga ke hari ini.
Aktivitas dimulai dari Taman Sari, di mana mahasiswa mendengarkan sejarah Koetaradja sambil menikmati keindahan Taman Bustanulsalatin. Pratitou Arafat, pemandu dari Kota Tanyoe, mengungkapkan bahwa Taman Sari pada zaman Kesultanan Aceh merupakan tempat bersantai dan berkumpulnya keluarga Sultan Aceh.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Gunongan Putroe Phang. Jovita Jasmin dari Universitas Hasanuddin, Makasar, mengungkapkan keharuannya mendengar kisah cinta Sultan Iskandar Muda kepada Putri Phang dari Negeri Pahang, Malaysia.
Mahasiswa lainnya, Silfia Tianita Subhan dari Universitas Negeri Jakarta, menambahkan bahwa kisah ini sangat romantis dan menginspirasi.
Rute perjalanan berlanjut ke era kolonial Belanda dengan mengunjungi Gendung Sentral Telepon Belanda, bangunan berarsitektur Eropa yang dibangun pada masa kolonial. Pratitou menjelaskan bahwa bangunan ini juga menjadi saksi keberadaan Korps Marechaussee te Voet, satuan militer Belanda yang dikenal Marsose.
Perjalanan juga melibatkan kunjungan ke Meuligoe Aceh dan Gedung Juang, bekas kediaman Gubernur Belanda yang kini menjadi Rumah Dinas Gubernur Aceh.
Lola Nashwa Aginza, mahasiswa arsitektur UPN Veteran Jawa Timur, mengagumi keklasikan arsitektur Meuligoe dan Gedung Juang sebagai simbol perjuangan berdirinya Republik Indonesia dari propinsi ujung paling barat.
Mahasiswa juga menyusuri bangunan rumah tua bergaya klasik di Komplek Indies, kawasan perumahan peninggalan Belanda. Muhammad Hadi, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merasakan pengalaman kembali ke masa kolonial saat berada di sana.
Perjalanan berlanjut ke situs Kandang XII atau Kandang Bait ar Rijal, makam keluarga Kesultanan Aceh abad ke-16. Pratitou menjelaskan bahwa Kandang merupakan istilah bahasa Persia yang berarti tempat berkumpul atau pemakaman bersama dari keturunan Sultan Aceh.
Keseruan jelajah Kota Tua Koetaraja ditutup dengan kunjungan ke menara air yang dikenal dengan Colonial Water Toren. Muh.
Ihwan Zaini, mahasiswa Universitas Hamzanwadi, Selong, Nusa Tenggara Barat, menyatakan bahwa kegiatan Modul Nusantara kali ini memberikan kesan luar biasa dalam mengenal lini masa sejarah Kota Banda Aceh.
Muhammad Royul Muzaki, mahasiswa Universitas Ibn Khaldun, Bogor, Jawa Barat, menyimpulkan bahwa jelajah kota tua ini sangat menginspirasi, memotret sejarah Koetaradja sebagai kota penuh cinta kasih dan perjuangan.
Pelaksanaan kegiatan Modul Nusantara Seulanga didukung oleh dua Liaison Officers Mahasiswa USK, Muhammad Rizki Rahmadani dan Syarifah Fathimah Azzahra.
Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM-4) di Universitas Syiah Kuala bertujuan untuk mempromosikan pemahaman dan pertukaran budaya antara mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia, menciptakan persatuan dan kerjasama dalam kerangka NKRI.
Dengan berakhirnya jelajah Kota Tua Koetaraja, mahasiswa MN PMM4 USK Kelompok Seulanga mengambil pulang kenangan indah sejarah dan kekayaan budaya Banda Aceh.
Kegiatan ini mempererat persatuan dan pertukaran nilai-nilai antarbangsa, menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi mahasiswa seluruh Indonesia.











