Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Food & Travel

Kuah Beulangong Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

redaksi by redaksi
07/12/2024
in Food & Travel, Pariwisata
0
Kuah Beulangong Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

JANTHO – Kuah Beulangong, salah satu kuliner khas Aceh Besar, telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2018. Hidangan tradisional ini kerap menjadi sajian utama dalam berbagai acara keagamaan, termasuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan berbagai acara syukuran, resepsi dan lainnya.

“Nama beulangong ini berasal dari kata belanga, yang berarti kuali besar. Biasanya, masakan ini disiapkan dalam jumlah besar, cukup untuk menyajikan hingga 300 porsi. Bahan utamanya adalah daging sapi, kambing, atau kerbau, yang diracik dengan rempah-rempah khas Aceh,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Bahrul Jamil SSos MSi, di Kota Jantho, Selasa (3/12/2024).

“Selain daging, Kuah Beulangong juga menggunakan bahan tambahan seperti nangka muda, pisang muda, bahkan bagian dalam batang pisang, yang menambah cita rasa khasnya,” tambahnya.

Menurut Bahrul Jamil, pengakuan ini menjadi motivasi untuk melestarikan tradisi kuliner Aceh Besar sekaligus memperkenalkannya ke tingkat nasional bahkan internasional. “Dengan pengakuan ini, kita berharap Kuah Beulangong dapat menjadi salah satu ikon budaya Indonesia di dunia. Ini bagian dari upaya kita menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi,” jelasnya.

Bahrul Jamil menuturkan bahwa, tradisi memasak Kuah Beulangong sudah ada sejak abad 19 atau bahkan jauh sebelum itu. Awalnya, tradisi ini diperkenalkan oleh pedagang dari Gujarat, India, yang selain berdagang dan menyebarkan Islam, juga membawa pengaruh budaya, termasuk dalam hal kuliner. Di Aceh, Kuah Beulangong menjadi bagian tak terpisahkan dari acara adat dan tradisi kearifan lokal seperti Khanduri (kenduri) Blang.

“Kenduri Blang merupakan tradisi syukuran masyarakat menjelang musim tanam padi. Acara ini juga menjadi momen untuk berdoa agar hasil panen melimpah,” katanya.

Proses memasak Kuah Beulangong memiliki keunikan tersendiri, yaitu hanya dilakukan oleh kaum pria. Filosofi ini mencerminkan nilai gotong royong dan tanggung jawab dalam tradisi adat Aceh. “Dalam waktu sekitar dua jam, para lelaki secara bergantian memasak kuah ini hingga matang. Ini menjadi simbol kebersamaan dan kerja sama dalam masyarakat Aceh,” imbuhnya.

Bahrul Jamil juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan Kuah Beulangong sebagai bagian dari identitas budaya Aceh Besar. “Kuah Beulangong bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga cerminan nilai budaya gotong royong yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia juga berharap masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk memastikan tradisi ini tetap hidup di masa depan. “Peran semua pihak sangat penting agar warisan ini tidak hilang, sehingga kebanggaan masyarakat Aceh Besar bisa terus dirasakan oleh generasi mendatang,” pungkasnya.

Kuah Beulangong kini tidak hanya menjadi kebanggaan Aceh Besar, tetapi juga aset budaya nasional yang memperkaya warisan kuliner Indonesia.

Previous Post

Nyan, Cuma 508 Warga di 24 Gampong Cot Girek yang Tak Memilih di Pilkada 2024

Next Post

Polda Aceh Kerahkan 1.000 Personel Amankan Rapat Pleno Pilkada 2024

Next Post
Polda Aceh Kerahkan 1.000 Personel Amankan Rapat Pleno Pilkada 2024

Polda Aceh Kerahkan 1.000 Personel Amankan Rapat Pleno Pilkada 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

76 Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Ikut Pembekalan PKL

76 Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Ikut Pembekalan PKL

27/06/2026
Obat-obatan Langka di RSUDYA Tapaktuan, Dugaan Permainan Pengadaan hingga Polemik Izin Operasional Jadi Sorotan

Obat-obatan Langka di RSUDYA Tapaktuan, Dugaan Permainan Pengadaan hingga Polemik Izin Operasional Jadi Sorotan

27/06/2026
Libas Panteraja FC 7-1, Ulim United ke Final Piala Kapolres Pidie Jaya 2026

Libas Panteraja FC 7-1, Ulim United ke Final Piala Kapolres Pidie Jaya 2026

27/06/2026
Ada Apa Dengan Lahat Datu, Masyarakat Frustasi dengan Vandalisme

Ada Apa Dengan Lahat Datu, Masyarakat Frustasi dengan Vandalisme

27/06/2026
Kadiskopukmdag Aceh Besar Dorong KDMP Harus Aktif dan Inovatif, Lam Lumpu Jadi Contoh

Kadiskopukmdag Aceh Besar Dorong KDMP Harus Aktif dan Inovatif, Lam Lumpu Jadi Contoh

27/06/2026

Terpopuler

Kuah Beulangong Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Kuah Beulangong Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

07/12/2024

Bupati Abdya Isi Materi di Pengajian Rutin Pemuda Pancasila

Dugaan Mark Up Arena MTQ Aceh Mengemuka, Aktivis Mahasiswa Minta APH Telusuri Aliran Anggaran

Tokoh Gayo Serta Lia Minta Menteri PU Segera Ganti Plt Kepala BPJN Aceh

Sejumlah Kapolres-PJU Polda Aceh Dimutasi

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com