BLANGPIDIE – Ramadhan menunggu hari lagi, tentu ini merupakan momentum yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh umat Muslim, terutama di Kabupaten Aceh Barat Daya. Selama bulan suci tersebut berlangsung, kita senantiasa akan melihat dan menjalani budaya tak benda yakni Buka Puasa Bersama (Bukber). Meski disana terdapat nilai Positif, namun juga akan ada dampak negatifnya.
Meskipun memiliki banyak nilai positif, sebagian orang juga melihat bahwa momen bukber juga memiliki dampak negatif atau kurang baik. Seperti meninggalkan salat tarawih, membicarakan orang lain, hingga pemborosan. Tak jarang juga bukber dianggap kurang tepat sasaran, yaitu dengan memberi makan orang yang secara ekonomi memang sudah mampu.
Selain itu, perlu diperhatikan juga jangan sampai berkah Ramadan ini malah membuat anda menjadi boros dan akhirnya membuat anda kesulitan di hari kedepannya. Karena itu, anda bisa mulai membuat prioritas bukber dan juga rencana keuangan agar lebih mudah menjaga pengeluaran anda selama bulan Ramadan.
Tradisi bukber memang baik untuk dilakukan, khususnya untuk menjalin silaturahmi. Tapi ingat, jangan sampai berlebihan. Jangan sampai anda terus menerus buka puasa bersama di luar tanpa memikirkan pengeluaran Anda.
Menurut pendapat Tgk. Armisli atau yang acap dipanggil Abon Armisli yaitu Pimpinan Pesantren Baburrahmah Desa Kampung Tengah Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya, Bukber sangat banyak menyalahi syari’at, terutama dilaksanakan di warung dan restoran-restoran.
“Bercampurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, banyak pemilik usaha warung tidak menyediakan ruang ibadah untuk shalat magrib, kemudian sering yang ikut Bukber tidak sempat shalat tarawih,” kata Abon Armisli, (27/02/2025).
Oleh sebab itu, Abon Armisli menghimbau kepada masyarakat agar buka bersama tidak sampai meninggalkan shalat magrib, jangan karena melaksanakan yang sunnah lalu meninggalkan yang wajib.
“Bulan puasa adalah bulan ibadah bukan bulan dimana kita mempertimbangkan hawa nafsu dengan berlomba-lomba menikmati makanan mewah dan bersukaria di sa’at berbuka menikmati lezatnya makanan sampai terlambat melakukan shalat magrib, bahkan tidak sempat shalat magrib saking nikmatnya berbuka,” katanya lagi.
Menurut Abon Armisli, kondisi ini sangat merusak dan bahkan sudah keluar dari nilai syari’at Islam.
Yang lebih ironi lagi, lanjutnya. Adanya buka bersama yang bukan muhrim,makan bersama dalam satu meja,bergembira menikmati hidangan buka puasa. Hal tersebut jelas diharamkan dalam syari’at Islam.
“Memprihatinkan sekali, disatu sisi kita melaksanakan perintah dengan melakukan puasa, namun disisi lain kita melakukan maksiat kepada Allah SWT karena berbuka puasa dengan cara yang salah.
Melihat kondisi tersebut, Abon Armisli meminta para pemilik warung atau rumah makan menyediakan ruang shalat (Mushalla), agar mereka yang buka bersama bisa segera shalat magrib setelah berbuka.
“Para masyarakat kami memohon tidak melakukan Bukber dengan pasangan yang bukan muhrim,” asa Abon Armisli.










