Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

Prof. Syamsul Rijal: Pengelolaan Zakat di Aceh Terjebak pada Fikih Formal, Lupa Esensi Kemanusiaan

redaksi by redaksi
06/11/2025
in Lintas Timur
0
Prof. Syamsul Rijal: Pengelolaan Zakat di Aceh Terjebak pada Fikih Formal, Lupa Esensi Kemanusiaan

BANDA ACEH – Rendahnya realisasi zakat di Aceh dinilai bukan sekadar persoalan teknis. Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Syamsul Rijal, menyebut akar masalahnya justru terletak pada cara pandang keagamaan yang kaku, pola budaya yang paradoksal, serta resistensi kelembagaan di tingkat akar rumput.

Pandangan itu disampaikan Prof. Syamsul dalam kegiatan Sosialisasi Potensi dan Kewajiban Zakat untuk Kalangan Media yang digelar Baitul Mal Aceh bekerja sama dengan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh, di Kopi Nanggroe, Selasa (04/11).

“Kegagalan ini mencerminkan adanya persoalan mendasar dalam memahami hubungan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan dalam praktik zakat,” ujar Prof. Syamsul di hadapan peserta diskusi.

Menurutnya, potensi zakat terbesar di Aceh bukan berasal dari individu, melainkan dari sektor perusahaan dan investor yang kini semakin banyak beroperasi di provinsi tersebut. Namun, potensi itu belum tergarap optimal karena pengelolaan zakat masih terjebak dalam pendekatan fikih formal yang sempit.

“Pendekatan kita masih birokratis dan belum menyentuh aspek kemanusiaan yang menjadi ruh zakat itu sendiri,” tegasnya.

Sebagai solusi, Prof. Syamsul memperkenalkan gagasan “teo-antropologi zakat” sebuah pendekatan yang menggabungkan nilai teologi dan antropologi agar zakat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan.

Dalam paparannya, Prof. Syamsul menegaskan bahwa banyak umat memahami nilai spiritual dalam ibadah, tetapi gagal menerapkannya dalam konteks kemanusiaan. Hal yang sama, kata dia, terjadi dalam praktik zakat yang kerap terjebak pada formalitas hukum.

“Perdebatan soal siapa yang layak menerima zakat, termasuk apakah ODGJ berhak menjadi mustahik, seharusnya tidak perlu diperpanjang. Itu persoalan manusia. Harta itu titipan Allah, dan harus kita keluarkan untuk kemanusiaan,” ujarnya.

Zakat, menurutnya, bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa, sebagaimana perintah “khudz min” dalam Al-Qur’an yang bermakna aktif, zakat harus dijemput oleh lembaga, bukan menunggu diberikan.

Prof. Syamsul juga menyoroti perilaku sebagian masyarakat yang berusaha “mengakali” hukum fikih agar terhindar dari kewajiban zakat, misalnya menjual sapi sebelum mencapai masa haul dan nisab.

“Ini bukan masalah hukum, tapi mindset. Kalau kita sadar sebagai manusia yang dititipi harta, mestinya tetap ada dorongan memberi,” katanya.

Ia juga menilai kebiasaan masyarakat yang membayar zakat hanya di bulan Ramadan menunjukkan lemahnya kesadaran spiritual. Begitu pula dengan kecenderungan pekerja kota yang menyalurkan zakat ke kampung halaman, padahal mereka hidup dan mencari nafkah di daerah lain.

“Kesadaran lokal seperti ini perlu diubah agar manfaat zakat bisa dirasakan di tempat muzakki tinggal dan bekerja,” ujarnya.

Prof. Syamsul menyoroti adanya penolakan terhadap Baitul Mal Gampong dari sebagian Teungku Imum yang merasa berhak menerima zakat fitrah sebagaimana tradisi lama. Padahal, menurutnya, tidak semua imam layak menjadi mustahik secara syariat.

Budaya memberi masyarakat Aceh, lanjutnya, cenderung bersifat seremonial, bukan pemberdayaan. “Kita ini seperti Robin Hood, suka berbagi tapi tidak menumbuhkan orang sejahtera baru,” ujar moderator diskusi menimpali.

Prof. Syamsul juga mengajak masyarakat untuk memperluas makna zakat, dari sekadar ibadah finansial menjadi aksi kemanusiaan.

“Zakat 2,5 persen itu ilahiyah. Kalau berani 3 persen, itu artinya setengah persen adalah nilai insaniyah kita,” ujarnya menutup diskusi.

Sebagai rekomendasi, ia mendorong agar Rencana Bisnis dan Anggaran Baitul Mal difungsikan sebagai investasi sosial yang bersinergi dengan berbagai lembaga, termasuk media. Jurnalis, katanya, perlu mengambil peran tabligh untuk meliterasi masyarakat bahwa zakat adalah alat keadilan sosial.

“Tujuannya agar mustahik bisa menjadi muzakki. Itulah makna pemberdayaan yang sebenarnya,” pungkasnya.

Previous Post

Dewan Da’wah Abdya Sayangkan Penganiayan Musafir Hingga Tewas di Masjid Sibolga

Next Post

Tiga Cabang Kafilah Aceh Barat Melaju ke Final MTQ Aceh ke-XXXVII

Next Post
Tiga Cabang Kafilah Aceh Barat Melaju ke Final MTQ Aceh ke-XXXVII

Tiga Cabang Kafilah Aceh Barat Melaju ke Final MTQ Aceh ke-XXXVII

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Aceh Harus Menjadi Penerima Manfaat Utama Blok Andaman

Aceh Harus Menjadi Penerima Manfaat Utama Blok Andaman

17/06/2026
Dayah SIDIQ Haflah Takhrij, Kakanwil Kemenag Aceh Ajak Wisudawan Berilmu dan Berintegritas

Dayah SIDIQ Haflah Takhrij, Kakanwil Kemenag Aceh Ajak Wisudawan Berilmu dan Berintegritas

17/06/2026
Ardhiyanto Ujung: Aceh Singkil dan Subulussalam Sudah Layak Jadi Satu Dapil DPRA

Ardhiyanto Ujung: Aceh Singkil dan Subulussalam Sudah Layak Jadi Satu Dapil DPRA

17/06/2026
Prodi MKM FK USK Perkuat Kerja Sama Internasional dengan Universiti Kebangsaan Malaysia

Prodi MKM FK USK Perkuat Kerja Sama Internasional dengan Universiti Kebangsaan Malaysia

17/06/2026
Bupati Aceh Tamiang Lepas 273 Petugas Sensus Ekonomi

Bupati Aceh Tamiang Lepas 273 Petugas Sensus Ekonomi

17/06/2026

Terpopuler

Kursi Kosong di HUT Pidie Jaya, Simbol Retaknya Harmoni Bupati dan Wakil Bupati?

Kursi Kosong di HUT Pidie Jaya, Simbol Retaknya Harmoni Bupati dan Wakil Bupati?

15/06/2026

Prof. Syamsul Rijal: Pengelolaan Zakat di Aceh Terjebak pada Fikih Formal, Lupa Esensi Kemanusiaan

Diduga Dikuasai Oknum, Aset Alat Berat Pidie Jaya Jadi Sorotan Aktivis

Besok, Ribuan Pelajar Ramaikan Pawai Syiar 1 Muharram 1448 Hijriah di Banda Aceh

Pesisir Pantai Lambadeuk Ditanami 200 Batang Mangrove

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com