BANDA ACEH – Perjalanan panjang dan melelahkan tidak menyurutkan langkah relawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang tergabung dalam UMY Rescue 2025 dalam menjalankan misi kemanusiaan ke Aceh.
Pada Jumat (19/12) pukul 21.30 WIB, relawan UMY akhirnya berhasil menyalurkan bantuan alat dan bahan medis untuk mendukung layanan kesehatan di wilayah Aceh yang terdampak bencana. Waktu tersebut menjadi penutup dari satu rangkaian perjalanan yang dimulai jauh sebelum matahari terbit dari Yogyakarta.
Rombongan memulai perjalanan pada pukul 03.30 WIB demi mengejar penerbangan pagi menuju Aceh, sebagai wujud komitmen agar bantuan dapat segera tiba dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta fasilitas kesehatan setempat. Tantangan sudah dihadapi sejak awal keberangkatan. Sejak pukul 05.00 WIB, relawan harus mengantre proses bagasi dengan total muatan mencapai 440 kilogram yang terdiri atas alat dan bahan medis. Melalui koordinasi intensif dengan pihak maskapai, seluruh logistik dapat diberangkatkan sesuai rencana tanpa mengurangi jumlah bantuan yang dibawa.
“Antri bagasi mulai jam 05.00 dengan total 440 kilogram bahan dan alat medis. Kami sampai harus melobi petugas maskapai agar ada keringanan biaya tambahan bagasi,” jelas Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA salah satu anggota pelaksana.
Dinamika perjalanan menjadi bagian tak terpisahkan dari misi kemanusiaan ini. Di tengah keterbatasan waktu dan padatnya agenda, relawan bahkan harus berlari mengejar panggilan terakhir pesawat. Kelelahan fisik bercampur dengan tekanan waktu, membuat kebutuhan dasar seperti makan terpaksa ditunda. Setelah tiba di lokasi transit, rombongan baru dapat beristirahat sejenak dan menikmati waktu makan sekitar pukul 11.30 WIB.
Setibanya di Sumatera, tugas relawan belum selesai. Selain menyerahkan hibah alat dan bahan medis dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan di wilayah Aceh yang terdampak bencana, relawan UMY juga terus mengawal pengelolaan donasi yang dihimpun dari dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), serta alumni FKIK UMY. Mengingat keterbatasan logistik untuk membawa seluruh bantuan langsung dari Yogyakarta, sebagian donasi dikoordinasikan melalui Pengurus Wilayah Muhammadiyah setempat agar pendistribusian tetap berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Donasi yang kita kumpulkan cukup banyak. Tetapi sayangnya, donasi tersebut tidak bisa diangkut dengan sekali armada perjalanan darat. Artinya malam itu harus ada yang kembali ke Medan untuk mengawal donasi,” jelasnya lebih lanjut.
Menurut, drg. Laelia perjalanan darat menuju Langsa Aceh menjadi fase paling menguras emosi. Dalam kondisi gelap gulita dan keterbatasan sinyal, relawan tetap harus melaporkan perkembangan dan berkoordinasi dengan Kemdiktisaintek melalui pertemuan daring.
“Perjalanan gelap gulita melewati banyak rumah yang roboh membuat kami berkali-kali menitikkan air mata. Membayangkan situasi yang saudara kita hadapi sangat sulit,” sebut dr. Laelia dengan pilu.
Lebih dari sekadar misi distribusi bantuan, perjalanan ini menjadi refleksi tentang civitas academica. Pengabdian kepada masyarakat hadir sebagai pilar penting yang melengkapi pendidikan dan penelitian.
“Seorang dosen tidak hanya berkutat pada penelitian, publikasi, dan pengajaran. Pengabdian adalah hal penting agar kita tidak menjadi menara gading, tetapi pribadi yang peka terhadap sesama,” pesannya.










