Aceh Tenggara — Indonesia kembali menghadapi bencana hidrometeorologi berskala besar sepanjang tahun 2025. Banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menimbulkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang sangat serius.
Anggota DPR RI H. Muslim Ayub, SH, MH menegaskan bahwa kondisi ini menuntut kehadiran negara yang tidak hanya cepat secara teknis, tetapi juga kokoh secara moral. Hal tersebut disampaikannya saat sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Gampong Tualang Lama, Aceh Tenggara, Senin (15/12/2025).
Berdasarkan data, di Aceh tercatat 391 korban meninggal dunia dan 31 orang hilang. Di Sumatera Utara, 1,6 juta warga terdampak, dengan 339 korban meninggal dunia dan 107 orang hilang. Sementara di Sumatera Barat, sebanyak 256.681 jiwa terdampak, 235 orang meninggal dunia, dan 93 warga dinyatakan hilang. Dari sisi ekonomi, Celios memperkirakan kerugian nasional mencapai Rp 68,67 triliun.
BNPB juga mencatat hampir 2.919 kejadian bencana sepanjang Januari hingga 24 November 2025, yang mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi.
Menurut Muslim Ayub, Pancasila harus menjadi kompas etik dalam kebijakan penanggulangan bencana. Nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan bangsa menuntut negara memastikan keselamatan rakyat sebagai hak dasar warga negara.
“Penanggulangan bencana harus bergeser dari sekadar respons darurat menuju mitigasi hulu, seperti reforestasi, restorasi ekosistem, dan pemulihan fungsi lingkungan. Keberpihakan fiskal pada ekologi adalah pernyataan moral negara,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan antara negara dan masyarakat, dengan menempatkan komunitas lokal sebagai garda terdepan dalam kesiapsiagaan bencana. Transparansi dan akuntabilitas distribusi bantuan, lanjutnya, merupakan amanat Pancasila agar penderitaan korban tidak dijadikan komoditas politik.
“Dengan menjadikan Pancasila sebagai landasan kebijakan kebencanaan, Indonesia dapat membangun sistem penanggulangan bencana yang tidak hanya tangguh secara teknis, tetapi juga adil, manusiawi, dan bermartabat,” tutup Muslim Ayub.[]

![[Opini] Perpustakaan di Era Digital: Ketinggalan Zaman atau Justru Kian Dibutuhkan?](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Image-2025-12-15-at-15.35.05-1-75x75.jpeg)








