BANDA ACEH – Ahli ilmu falak, Teungku Ismail Alfalaqy memprediksi, Lebaran Idul Fitri tahun ini jatuh pada tanggal berbeda antara Muhammadiyah dan pemerintah. Sebab, hilal baru terlihat pada 21 Maret 2026 di Aceh.
Sementara itu, Pusat Muhammadiyah memastikan Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026. Hal itu diungkapkan Dosen Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah ini kepada Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).
Dia menyatakan, untuk menentukan 1 Syawal dapat dilihat data astronomis yaitu konjungsi, tinggi hilal, dan sudut elongasi bulan.
Dari sisi konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika bulan sama dengan nilai ekliptika matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat bumi.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.25 WIB atau pukul 09.23.25 Wita atau pukul 10.23.25 WIT.
Selanjutnya, kata Teungku Ismail, tinggi hilal merupakan jarak bulan yang dihitung dari garis ufuk barat ke pusat piringan bulan. Tinggi hilal di ufuk barat terjadi pada Kamis tanggal 19 Maret 2026 Masehi atau 29 Ramadhan 1447 Hijriah saat matahari terbenam di seluruh Indonesia berkisar antara 03 derajat 07 menit 15 detik busur tertinggi di Sabang.
Sementara itu, di Merauke sampai 00 derajat 53 menit 58 detik busur terendah, artinya bulan sudah berada di atas ufuk barat saat matahari terbenam di seluruh Indonesia.
“Ketiga, sudut elongasi bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari yang terbentuk saat Matahari terbenam di tempat pengamatan,” kata dia.
Dia menyampaikan, nilai sudut elongasi bulan saat matahari terbenam, yakni pada Kamis 19 Maret 2026 atau 29 Ramadhan 1447 Hijriah di seluruh Indonesia berkisar antara 06 derajat 06 menit 39 detik busur tertinggi di Lhoknga, sampai 04 derajat 32 menit 57 detik busur terendah di Waris.
Dari data tersebut, kata dia, dapat disimpulkan bahwa hilal sudah wujud di atas ufuk barat saat matahari terbenam di Indonesia, tetapi kondisi hilal belum memenuhi kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). Kondisi hilal tersebut belum memungkinkan untuk dilihat baik dengan kasat mata atau dengan bantuan alat optik seperti teleskop.
“Kondisi hilal baru memungkinkan untuk dilihat bila memiliki ketinggian minimal tiga derajat di atas ufuk barat saat matahari terbenam dengan elongasi minimal 6,4 derajat,” ucap dia.
“Atas dasar data tersebut, bisa dipastikan hilal pada sore Kamis 19 Maret 2026 yang bertepatan 29 Ramadhan 1447 Hijriah di seluruh Indonesia tidak mungkin dilihat walaupun cuaca cerah,” kata dia.
Hal ini mengakibatkan jumlah hari bulan Ramadhan 1447 Hijriah akan digenapkan 30 hari dengan ketetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, bertepatan pada Sabtu 21 Maret 2026.
“Jadi jika terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal untuk Lebaran Idul Fitri tahun ini, kita imbau masyarakat tetap tenang, tetap saling menghormati. Karena semua kajian dan analisis ilmiah,” ujar dia.
Sebelumnya, pengurus Pusat Muhammadiyah memastikan Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara itu, penetapan tanggal Lebaran dari pemerintah menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama RI yang digelar pada 19 Maret 2026.









