BANDA ACEH — Penyair Aceh, Din Saja, menyuarakan kritik sosial melalui monolog puitik dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2026 yang digelar di TB Kopi, kawasan Taman Budaya Aceh, Rabu (29/4/2026).
Dalam penampilannya, Din Saja membacakan karya bernuansa satire yang menyoroti berbagai persoalan rakyat, mulai dari beban pajak hingga eksploitasi sumber daya alam. Ia menggambarkan bagaimana kebijakan yang diklaim untuk pembangunan justru dirasakan menekan kehidupan masyarakat.
“Hasil bumi tanpa henti dikuras, sementara rakyat diminta bersyukur dan tidak mengeluh,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam pembacaan tersebut.
Kritik semakin tajam ketika ia menghadirkan dialog alegoris antara tokoh “men” dan “jinn”. Dalam cerita itu, logika sederhana “empat tambah empat” dipelintir menjadi simbol ketimpangan, ketika hasilnya berubah karena adanya kepentingan sepihak.
Sebaliknya, saat berbicara soal pembagian, muncul penolakan terhadap konsep keadilan, menggambarkan sistem yang tidak memberi ruang pada pemerataan.
Penampilan tersebut mendapat respons serius dari penonton yang hadir, terdiri dari pegiat literasi dan masyarakat umum. Pembacaan itu dinilai bukan sekadar karya sastra, tetapi juga refleksi atas kondisi sosial yang dirasakan masyarakat.
Peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini kembali menegaskan peran sastra sebagai medium kritik—menjadi suara bagi kegelisahan publik di tengah dinamika pembangunan.
Penyair yang tampil pada malam Hari Puisi adalah Devis Matahari, Kamal Sharif, Zul Kirbi, Salman Yoga, Din Saja, Rahmad Sanjaya, Mutia Pima, Azhari Ayub, Agus Nur Amal, Yusuf Bimbang serta sejumlah penyair Aceh lainnya.[]











