BLANGPIDIE — Di bawah langit Aceh Barat Daya (Abdya) yang subur, sebuah tradisi leluhur kembali menggema. Bukan sekadar rutinitas di atas kertas, “Musyawarah Turun Ke Sawah” adalah denyut nadi bagi ribuan petani yang menggantungkan hidup pada hamparan hijau bumi Abdya. Di sinilah, langkah pertama menuju swasembada pangan dimulai.
Halaman Kantor Dinas Pertanian Abdya menjadi saksi berkumpulnya sekitar 300 tokoh penting pertanian, Kamis (07/05/2026). Mulai dari kelompok tani hingga para penjaga adat sawah—Keujruen dan Hop Keujruen.
Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi menegaskan bahwa musyawarah ini adalah benteng terakhir kearifan lokal dalam menentukan waktu yang paling tepat untuk menyentuh tanah.
Dimana, targetnya jadwalnya masa tanam itu akan berlangsung pada Minggu pertama bulan Mei hingga Juni 2026 mendatang.
“Ini adalah langkah strategis untuk memastikan Abdya tetap menjadi penyangga pangan utama di wilayah pantai barat selatan Aceh,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli, yang membuka acara bersama unsur Forkopimda, memberikan sorotan tajam pada potensi dan tantangan nyata di lapangan. Dengan luas lahan mencapai 7.153 hektare, Abdya memiliki modal besar sebagai lumbung pangan. Namun, ia mengingatkan bahwa zaman telah berubah.
Tantangan yang dihadapi, Perubahan Iklim: Ketidakpastian musim yang sulit ditebak. Ancaman Hama, perlunya keseragaman jadwal tanam sebagai strategi kendali alami. Dinamika Pasar yakni memastikan harga yang adil bagi keringat petani.
Dalam sambutannya yang menggugah, Wakil Bupati Zaman Akli menekankan bahwa keberhasilan panen gadu tahun ini menuntut adanya revolusi mental di sektor pertanian.
Teknologi dan Inovasi, petani didorong meninggalkan cara konvensional dan mulai berbasis data, menggunakan benih unggul, serta optimalisasi alat mesin pertanian (Alsintan).
Sinergi Lintas Sektor, dimana pemerintah hadir dengan program tepat sasaran, penyuluh aktif di lapangan, dan petani yang terbuka pada pembaruan. Kesejahteraan Pasca-Panen yakni fokus pemerintah tidak lagi hanya pada saat menanam, tapi juga bagaimana memastikan distribusi dan akses pasar yang menguntungkan petani.
Pemerintah Kabupaten Abdya menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki infrastruktur irigasi dan bantuan sarana produksi. Namun, kunci utamanya tetaplah satu: Kebersamaan.
“Saya percaya, dengan semangat kerja keras, kita mampu menjadikan Abdya sebagai lumbung padi yang membanggakan, tidak hanya di tingkat provinsi, tapi juga nasional,” tutup Zaman Akli sebelum mengajak seluruh peserta berdiskusi produktif demi masa depan pertanian yang lebih cerah.
Wabup Zaman Akli menyebutkan bahwa Tahun 2026 akan hadir 4 unit traktor 4WD setelah sebelumnya sudah didatangkan 7 unit tahun 2025. Kemudian juga masih banyak infrastruktur lainnya tahun 2026 ini untuk mendukung sektor pertanian.
Mari turun ke sawah, demi Abdya yang mandiri dan sejahtera.









![[Opini] JKA dan Martabat Keistimewaan Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-06-at-15.09.56-350x250.jpeg)
