BANDA ACEH – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah, Nasrul Zaman Aceh angkat bicara merespons ancaman kriminal yang dilontarkan oleh Hercules terhadap tokoh bangsa, Prof. Dr. H. Amien Rais.
Pernyataan ini dikeluarkan sebagai bentuk pembelaan terhadap martabat tokoh senior sekaligus pengingat agar supremasi hukum tetap dijaga di atas kepentingan kelompok tertentu.
Dalam pernyataannya, Nasrul Zaman Wakil Ketua PW Muhammadiyah Aceh menegaskan bahwa ancaman dalam bentuk apa pun tidak akan menggoyahkan mentalitas seorang Amien Rais. Ia menekankan bahwa perjalanan hidup mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut sudah melewati berbagai badai ujian yang jauh lebih berat.
“Pak Amien sudah melampaui semua jenis ancaman yang pernah dilakukan manusia. Mulai dari upaya menyakiti fisik, intimidasi terhadap keluarga, bahkan ancaman yang mempertaruhkan nyawa sudah pernah terjadi dalam perjalanan hidup beliau. Beliau adalah tokoh yang sudah matang dalam tekanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihak PW Muhammadiyah Aceh menyayangkan tindakan ancam-mengancam yang masih terjadi di era demokrasi saat ini. Ia menilai tindakan tersebut merupakan kemunduran bagi peradaban hukum di Indonesia.
“Sekarang bukan eranya lagi ancam-mengancam secara kriminal. Kita adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan atau kekuatan fisik,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, PW Muhammadiyah Aceh meminta institusi kepolisian, khususnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, untuk bersikap tegas dan memberikan atensi khusus terhadap provokasi yang dilakukan oleh Hercules.
Adapun poin-poin utama desakan kepada Kapolri:
Meminta Kapolri untuk mengingatkan Hercules agar tidak bertindak seolah-olah dirinya berada di atas hukum.
Memastikan tidak ada ruang bagi praktik premanisme dalam menyelesaikan perbedaan pendapat atau konflik personal.
Menjamin keamanan bagi para tokoh bangsa dari segala bentuk intimidasi kriminal.
“Saya berharap Pak Kapolri segera mengingatkan Hercules. Jangan sampai ada pihak-pihak yang merasa dirinya sebagai hukum di Indonesia ini. Hukum harus ditegakkan dengan adil, tanpa pandang bulu,” tutup Wakil Ketua PW Muhammadiyah Aceh.











