JANTHO – Riuh tepuk tangan memecah keheningan aula Hotel Solo Paragon, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu malam, 23 Mei 2026. Ratusan pasang mata tertuju ke panggung Festival Literasi Nasional (FLN) Nyalanesia 2026. Satu per satu nama sekolah dari berbagai penjuru Indonesia dipanggil untuk menerima penghargaan.
Di tengah gegap gempita itu, rombongan kecil dari ujung barat Indonesia berkali-kali melangkah ke atas panggung. Mereka datang dari sebuah madrasah di Aceh Besar, wilayah yang jauh dari hiruk pikuk pusat pendidikan nasional. Namun malam itu, nama MIN 27 Aceh Besar menjadi salah satu yang paling sering disebut.
Raut haru tampak jelas di wajah Naswati, Kepala MIN 27 Aceh Besar. Didampingi operator sekaligus pengelola website madrasah, Furqan Desriandy, ia menerima satu demi satu penghargaan yang diumumkan panitia.
Sesekali keduanya saling berpandangan, seolah belum percaya dengan pencapaian yang diraih malam itu.
Sebelas penghargaan nasional berhasil dibawa pulang oleh madrasah yang juga dikenal sebagai MIN Lambaro tersebut. Mulai dari Juara 1 Website Literasi Nasional hingga penghargaan Sekolah Penggerak Literasi.
Malam di Kota Bengawan terasa panjang bagi rombongan dari Tanah Rencong. Tepuk tangan kembali bergema ketika nama MIN 27 Aceh Besar diumumkan sebagai nominasi sekolah percontohan literasi nasional di berbagai bidang, mulai dari literasi sains, digital, budaya dan kewargaan, hingga literasi finansial.
Bagi sebagian orang, penghargaan itu mungkin hanya sebuah seremoni. Namun bagi guru dan siswa MIN 27 Aceh Besar, capaian tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang membangun budaya membaca dan menulis dari ruang-ruang belajar sederhana di sudut kawasan Pasar Induk Lambaro.
“MIN 27 Aceh Besar telah membuktikan bahwa madrasah di daerah juga mampu tampil dan bersaing di tingkat nasional melalui budaya literasi yang kuat,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, Saifuddin.
Saifuddin, yang akrab disapa Yahwa, juga menjadi narasumber dalam sesi talkshow “Cerita Baik Pendidikan di Daerah” pada rangkaian Festival Literasi Aceh. Di hadapan peserta dari berbagai provinsi, ia berbicara tentang upaya membangun gerakan literasi dari daerah yang jauh dari pusat perhatian nasional.
Menurut Yahwa, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah cara membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, serta adaptif terhadap perubahan zaman.
“Madrasah harus menjadi ruang tumbuh yang produktif. Anak-anak tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan dan membangun kepercayaan diri,” katanya.
Semangat itu tumbuh perlahan di MIN 27 Aceh Besar. Dimulai dari kebiasaan membaca sebelum pelajaran dimulai, menulis pengalaman pribadi, mengelola website sekolah, hingga membangun ruang publikasi bagi karya siswa dan guru.
Bagi Naswati, pencapaian di Solo bukanlah hasil kerja semalam. Ada proses panjang yang dijalani bersama guru, siswa, wali murid, serta dukungan masyarakat sekitar.
“Ini seperti mimpi yang menjadi nyata,” ujarnya.
Ia masih mengingat masa ketika budaya literasi belum tumbuh di lingkungan madrasahnya. Saat itu, menumbuhkan minat baca siswa membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.
Guru-guru harus mencari berbagai cara agar anak-anak tertarik menulis dan berani menuangkan pengalaman mereka sendiri.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Tulisan-tulisan siswa mulai dikumpulkan. Guru ikut menulis. Website madrasah dihidupkan. Kegiatan literasi pun menjadi bagian dari rutinitas harian.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa MIN Lambaro telah menerapkan konsep literasi yang komprehensif dan inklusif. Pengakuan nasional pun datang melalui panggung penghargaan FLN Nyalanesia 2026.
MIN 27 Aceh Besar meraih Juara 1 Website Literasi Nasional, Sekolah Penggerak Literasi, Sekolah Berdedikasi Literasi Nasional, masuk dalam 50 nominasi Sekolah Percontohan Literasi Nasional, serta 10 nominasi Sekolah Percontohan Literasi Sains dan Literasi Digital.
Selain itu, madrasah tersebut juga masuk dalam 10 nominasi Sekolah Percontohan Literasi Budaya dan Kewargaan, 10 nominasi Sekolah Percontohan Literasi Finansial, 100 Penulis Siswa Terbaik Nasional kategori pengalaman pribadi, 100 Penulis Guru Terbaik Nasional kategori pengalaman pribadi, serta Juara Favorit Konten Media Sosial.
Tak hanya MIN 27 Aceh Besar, MTsN 2 Aceh Besar atau MTsN Tungkop juga menerima penghargaan sebagai Sekolah Berdedikasi Literasi Nasional pada ajang yang sama.
Bagi Yahwa, capaian itu menjadi pesan penting bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk melahirkan prestasi.
“Madrasah di pelosok daerah juga bisa maju jika diberi ruang, semangat, dan kepercayaan untuk berkembang,” ujarnya.
Malam itu, di tengah hiruk pikuk Kota Solo, rombongan kecil dari Aceh pulang membawa lebih dari sekadar trofi. Mereka membawa keyakinan bahwa literasi dapat tumbuh dari mana saja, bahkan dari sudut-sudut negeri yang selama ini jarang mendapat perhatian.







