MEUREUDU – Di tengah upaya pemulihan pascabanjir, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Bank Indonesia (BI) memilih langkah yang tidak biasa. Lahan persawahan yang selama ini dianggap rusak akibat tertimbun lumpur banjir justru disulap menjadi kawasan budidaya bawang merah secara intensif.
Program tersebut menjadi salah satu strategi percepatan pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya petani yang kehilangan produktivitas lahan setelah banjir melanda sejumlah wilayah di Pidie Jaya beberapa bulan lalu.
Bupati Pidie jaya Sibral malasyi MA melalui Plt. Kadis pertanian dan panganPlt. Muhammad Nur, mengatakan Budidaya bawang merah dilakukan berdasarkan arahan Bupati Pidie Jaya yang menggandeng Bank Indonesia dalam pengembangan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
“Saat ini, budidaya bawang merah telah berjalan di dua lokasi percontohan, yakni Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, dan Gampong Meu, Kecamatan Trienggadeng, dengan total luas sekitar lima hektare,” kata Muhammad Nur, kadistanpang Sabtu,(6/6).
Selain itu, lima titik lain sedang disurvei untuk menilai kesesuaian lahan sebelum dikembangkan lebih lanjut.
“Ini bukan sekadar program tanam bawang merah, tetapi bagian dari upaya menghidupkan kembali lahan yang terdampak banjir agar kembali produktif dan mampu meningkatkan pendapatan petani,” Ujar Muhammad Nur.
Menurutnya, pemanfaatan lahan bekas banjir untuk komoditas hortikultura menjadi alternatif yang menjanjikan. Selain masa tanam yang relatif singkat, bawang merah juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding sejumlah komoditas pangan lainnya.
Dukungan Bank Indonesia tidak hanya berupa pendampingan program, tetapi juga bantuan sarana produksi pertanian yang selama ini menjadi kendala bagi petani.
Berbagai peralatan modern seperti hand tractor, cultivator, pompa air, selang irigasi, mulsa, dan perlengkapan pendukung lainnya disalurkan untuk menunjang keberhasilan budidaya.
Rahmadi, petani asal Gampong Meunasah Teungoh, mengaku optimistis program tersebut mampu memberikan harapan baru bagi petani yang terdampak banjir.
“Seluruh kebutuhan budidaya dibantu. Ini sangat meringankan petani. Tanaman sekarang sudah berumur sekitar 32 hari dan kami menargetkan panen pada pertengahan Juli mendatang,” ujarnya.
Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari kemampuannya mengubah lahan terdampak bencana menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Jika hasilnya sesuai harapan, Pidie Jaya berpeluang menjadi salah satu sentra bawang merah baru di Aceh sekaligus membuktikan bahwa lahan yang sempat dianggap tidak produktif masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Dengan pendekatan tersebut, pemulihan pascabanjir di Pidie Jaya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung kehidupan warga.[Mul]










