Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

redaksi by redaksi
10/06/2026
in Nanggroe
0
Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

BANDA ACEH – Di tengah meningkatnya frekuensi banjir, longsor, dan kerusakan kawasan hutan di berbagai wilayah Aceh, laju penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Data Institute for Development Studies (IDeAS) mencatat, hingga April 2026 terdapat 79 IUP mineral dan batubara yang aktif di Aceh, dan 56 di antaranya diterbitkan hanya dalam kurun lima tahun terakhir.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari 70 persen izin tambang yang ada saat ini lahir dalam periode 2022–2026.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan pengelolaan sumber daya alam Aceh di tengah ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata.

Tahun 2025 menjadi periode dengan penerbitan izin tertinggi, mencapai 20 IUP, disusul tahun 2022 sebanyak 17 IUP dan tahun 2024 sebanyak 15 IUP. Bahkan hingga April 2026, dua izin baru kembali diterbitkan.

Berdasarkan linimasa yang dirilis IDeAS, pemerintahan Aceh dalam lima tahun terakhir menjadi periode paling produktif dalam menerbitkan izin tambang.

Pada masa Nova Iriansyah diterbitkan 18 IUP, Penjabat Gubernur Achmad Marzuki 15 IUP, Penjabat Gubernur Safrizal ZA 10 IUP, Penjabat Gubernur Bustami Hamzah 9 IUP, serta pemerintahan Muzakir Manaf sebanyak 14 IUP hingga April 2026.

Padahal, Aceh pernah menjadi contoh daerah yang berani mengambil langkah pengendalian eksploitasi sumber daya alam. Pada 2013, Gubernur Aceh saat itu, Zaini Abdullah, menerapkan moratorium izin tambang melalui Instruksi Gubernur Nomor 06/INSTR/2013. Kebijakan tersebut membuat hampir tidak ada izin baru yang diterbitkan hingga pertengahan 2017.

Namun setelah moratorium berakhir, keran perizinan kembali terbuka. Dalam beberapa tahun terakhir, penerbitan izin meningkat tajam bersamaan dengan semakin seringnya bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah.

IDeAS menilai kondisi ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif semata. Di balik setiap izin yang diterbitkan terdapat konsekuensi ekologis yang harus ditanggung masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah hulu dan kawasan sekitar aktivitas pertambangan.

Lembaga tersebut menyoroti bahwa berbagai kabupaten yang memiliki aktivitas tambang juga menjadi daerah yang rentan terhadap banjir dan longsor. Kerusakan tutupan hutan, perubahan bentang alam, sedimentasi sungai, hingga berkurangnya daya serap tanah menjadi faktor yang memperbesar risiko bencana.

Bencana ekologis yang melanda Aceh pada 26 November 2025 disebut sebagai peringatan keras bahwa daya dukung lingkungan Aceh sedang menghadapi tekanan serius. Jika ekspansi izin tambang terus berlangsung tanpa evaluasi menyeluruh, maka potensi kerusakan diperkirakan akan semakin meluas.

Dari total 79 IUP yang tercatat hingga April 2026, sebanyak 77 izin diterbitkan pemerintah daerah, sementara dua lainnya berasal dari pemerintah pusat. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan terkait eksploitasi sumber daya mineral di Aceh lahir dari kebijakan pemerintah daerah sendiri.

Karena itu, IDeAS mendesak Pemerintah Aceh untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh izin tambang yang telah diterbitkan, sekaligus mempertimbangkan pemberlakuan kembali moratorium izin tambang baru.

Menurut IDeAS, Aceh saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, sektor pertambangan dianggap mampu mendatangkan investasi dan meningkatkan pendapatan daerah.
Namun di sisi lain, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan berpotensi menciptakan kerugian ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar.

“Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak izin yang diterbitkan, tetapi berapa besar biaya lingkungan yang harus dibayar generasi mendatang akibat keputusan hari ini,” demikian sorotan yang mengemuka dari analisis IDeAS.

Dengan 56 izin baru yang lahir hanya dalam lima tahun terakhir, desakan moratorium tambang kini bukan sekadar tuntutan aktivis lingkungan, melainkan menjadi isu strategis yang menyangkut masa depan ekologi, keselamatan warga, dan keberlanjutan pembangunan Aceh.[Mul]

Previous Post

Plt Sekda Lantik 50 Pejabat Fungsional Tenaga Kesehatan dan Guru

Next Post

Bupati Al-Farlaky Buka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 Aceh Timur

Next Post
Bupati Al-Farlaky Buka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 Aceh Timur

Bupati Al-Farlaky Buka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 Aceh Timur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Wakili Peukan Bada, Guru Al Zahrah Ini Juara Qiraah Sab’ah MTQ Aceh Besar 2026

Wakili Peukan Bada, Guru Al Zahrah Ini Juara Qiraah Sab’ah MTQ Aceh Besar 2026

31/10/2026
Ketua YARA Safaruddin Raih Penghargaan Pembela dan Pejuang HAM pada JAB Award 2026 ‎

Ketua YARA Safaruddin Raih Penghargaan Pembela dan Pejuang HAM pada JAB Award 2026 ‎

31/10/2026
Partai Aceh Dorong Kader Adaptif, 91 Peserta Ikuti Seminar Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan

Partai Aceh Dorong Kader Adaptif, 91 Peserta Ikuti Seminar Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan

31/10/2026
Dinkes Banda Aceh Periksa Kesehatan Lingkungan Asrama Haji Jelang Embarkasi

Dinkes Banda Aceh Periksa Kesehatan Lingkungan Asrama Haji Jelang Embarkasi

31/10/2026
Bupati Aceh Tamiang Hadiri Pelantikan Pengurus Front PETA Periode 2026 – 2031

Bupati Aceh Tamiang Hadiri Pelantikan Pengurus Front PETA Periode 2026 – 2031

31/10/2026

Terpopuler

Sat Reskrim Polres Abdya Amankan Penimbun 240 Liter Solar Subsidi di Babahrot

Sat Reskrim Polres Abdya Amankan Penimbun 240 Liter Solar Subsidi di Babahrot

30/10/2026

Ohku, Sengketa Tanah Wakaf Memanas, Warga Pasang Spanduk Larangan di MAN 1 Pidie Jaya

Sengketa Tanah Wakaf Masjid At-Taqwa Pidie Jaya: Sertifikat MAN 1 Digugat, Pembangunan Diminta Berhenti

Absen di Apel dan Sumpah Pemuda, Bos J Sentil Wabup Pidie Jaya: Jabatan Bukan Sekadar Simbol

26 Peserta Peukan Bada Masuk Final MTQ Ke-35 Kabupaten Aceh Besar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com