Nagan Raya-Di balik gugusan pegunungan yang mengelilingi Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, terdapat empat kampung yang hidup berdampingan dengan alam. Kampung Blang Puuk, Meurandeh, Blang Teungoh, dan Babah Suak merupakan potongan surga yang masih terjaga di pedalaman Aceh.
Bagi masyarakat Beutong Ateuh, kemakmuran tidak selalu diukur dari banyaknya uang atau megahnya bangunan.
Kekayaan sejati telah disediakan alam sejak lama. Hutan menghadirkan buah pala, pinang, rotan, dan berbagai hasil hutan lainnya. Sungai DAS Beutong mengalirkan ikan-ikan segar setiap hari.
Air bersih melimpah tanpa harus membeli. Udara sejuk dan hutan yang hijau menjadi penopang kehidupan yang tak ternilai harganya.
Masyarakat di sini hanya menginginkan satu hal: akses jalan yang layak dan jaringan komunikasi yang memadai. Selebihnya, mereka telah hidup bahagia bersama alam yang terus memberi kehidupan.
“Kami tidak sudi jika tanah Beutong Ateuh dieksplorasi. Kami tidak ingin hutan yang menjadi sumber kehidupan kami ditelanjangi demi kepentingan sesaat.”
Bagi masyarakat Beutong Ateuh, tambang bukanlah jawaban. Mereka tidak mengejar kemewahan seperti yang sering dibayangkan masyarakat perkotaan.
Kekayaan mereka adalah hutan yang lestari, sungai yang jernih, udara yang bersih, dan tanah yang terus menghasilkan kehidupan.
Allah SWT telah mencukupkan semua kebutuhan mereka. Air tersedia sepanjang waktu, makanan tumbuh dari tanah yang subur, dan alam terus memberikan rezeki selama dijaga dengan penuh rasa syukur.
“Kami tidak membutuhkan uang dengan menjual kekayaan alam ini. Kami tidak membutuhkan kerakusan untuk bisa hidup. Kami tidak perlu merusak alam agar terlihat megah.
Kami hanya ingin menjaga alam agar tetap indah.”
Peristiwa banjir bandang yang melanda kawasan ini pada penghujung tahun 2025 menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Penebangan hutan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab diyakini telah memperparah bencana hingga menghanyutkan dua kampung yang berada di sepanjang aliran sungai.
Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa ketika hutan rusak, bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga kehidupan, keamanan, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya.
Bagi warga Beutong Ateuh, menjaga hutan bukan sekadar menjaga pohon. Menjaga hutan berarti menjaga sumber air, menjaga tanah dari longsor, menjaga sungai tetap hidup, serta mewariskan kehidupan yang layak kepada anak cucu.
Karena bagi mereka, kekayaan yang sesungguhnya bukanlah apa yang diambil dari alam, melainkan apa yang masih dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Beutong Ateuh telah membuktikan bahwa manusia bisa hidup berkecukupan tanpa harus mengorbankan hutannya.










