Banda Aceh – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh mencatat nilai transaksi keuangan digital via quick response code Indonesian standard (QRIS) di Aceh mencapai Rp2,7 triliun sepanjang Januari-Mei 2026.
“Nilai nominal transaksi QRIS di Aceh secara kumulatif antara Januari sampai Mei 2026 tercatat sebesar Rp2,7 triliun, mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat atau 153 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Kepala KPwBI Aceh Agus Chusaini di Banda Aceh, Senin.
Agus menyampaikan, nilai tersebut seiring dengan peningkatan jumlah transaksi QRIS di Aceh secara kumulatif antara hingga Mei 2026 mencapai 33,5 juta transaksi, meningkat lebih dari empat kali lipat (348 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa QRIS yang memang ditujukan untuk transaksi retail atau kecil semakin banyak digunakan masyarakat untuk berbelanja, serta didukung efisiensi Merchant Discount Rate (MDR) (gratis MDR) bagi usaha mikro (UMi), dari Rp100 ribu menjadi Rp500 ribu per transaksi sejak 2025.
Disisi lain, dirinya juga menyebutkan bahwa dengan Mei 2026, jumlah pengguna QRIS di Aceh telah mencapai 784.942 user, meningkat sebesar 16 persen dibandingkan periode yang sama di 2025.
“Peningkatan ini mencerminkan semakin luasnya penggunaan QRIS oleh masyarakat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, baik pada sektor perdagangan, jasa, maupun layanan publik,” ujarnya.
Kemudian, lanjut Agus, untuk jumlah merchant yang menggunakan QRIS di Aceh mencapai 301.998 merchant, juga meningkat 45 persen dari tahun lalu sebelumnya.
Peningkatan ini, didukung oleh strategi on-boarding pelaku usaha melalui kolaborasi antara Bank Indonesia dengan Penyedia Jasa Pembayaran (PJP)/perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya yang menjangkau berbagai komunitas dan sektor usaha, termasuk UMKM seperti warung kopi, kafe dan restoran, pertokoan dan pedagang eceran, serta pelaku usaha syariah.
Agus menegaskan, Bank Indonesia terus memperkuat perluasan akseptasi QRIS melalui berbagai inisiatif strategis seperti pelaksanaan QRIS Merchant Challenge, yaitu lomba bagi merchant dari kategori warung kopi, cafe dan restoran.
Kemudian, user experience penggunaan QRIS Rp1 untuk masyarakat yang belum pernah menggunakan QRIS, bersinergi dengan pemerintah Aceh pada Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Jaya.
Selanjutnya, berkolaborasi dengan pemerintah Aceh Barat dalam penyelenggaraan car free day (CFD) guna mendorong penggunaan QRIS di kawasan Meulaboh sebagai ibu kota kabupaten setempat.
Lalu, pelaksanaan QRIS jelajah kuliner Indonesia 2026, dilaksanakan seluruh KPwBI seluruh Indonesia. Program ini sebagai upaya mendorong perluasan akseptasi QRIS melalui promosi dan digitalisasi merchant kuliner lokal serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan kuliner Indonesia.
“Bank Indonesia juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi QRIS/Peka kepada pelajar/mahasiswa serta masyarakat dari berbagai komunitas di Aceh,” ujar Agus.
Ke depan, KPwBI Aceh terus bersinergi dengan PJP Bank dan Non-Bank, pemerintah daerah, serta mitra strategis lainnya untuk menghadirkan berbagai inovasi dalam rangka meningkatkan minat, kenyamanan, serta pengalaman masyarakat bertransaksi menggunakan QRIS yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal (Cemumuah).
“Bank Indonesia berkomitmen untuk mendorong akselerasi ekonomi digital yang inklusif dan merata (pro-growth) di seluruh pelosok Tanah Air, termasuk di Aceh,” demikian Agus Chusaini.









