Banda Aceh – Film Dua Mata hadir bukan sekadar sebagai karya sinema, tetapi sebagai ruang refleksi yang mengajak masyarakat mendiskusikan kembali konsep uang, nilai, dan sistem moneter dari sudut pandang Islam.
Dalam sesi diskusi usai pemutaran film di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Kampung Mulia, Banda Aceh, Rabu (15/7/2026) sutradara Zulkifli atau Jul Kande menjelaskan bahwa judul Dua Mata terinspirasi dari dua cara manusia memandang kehidupan: mata yang ada di kepala untuk melihat realitas, dan “mata hati” untuk merasakan serta memahami makna yang lebih dalam.
Menurut Jul, film tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap sistem keuangan modern yang dinilai telah menjauh dari konsep nilai intrinsik sebagaimana dikenal dalam sejarah Islam melalui dinar dan dirham.
“Dinar dan dirham memiliki nilai intrinsik karena terbuat dari emas dan perak. Berbeda dengan uang kertas yang nilainya bergantung pada kesepakatan. Itu yang ingin kami jadikan bahan diskusi, bukan untuk menghakimi siapa pun,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa film tersebut tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap modernisasi, melainkan mengajak masyarakat berpikir kritis mengenai perubahan sistem moneter dan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi.
Dalam paparannya, ia mencontohkan bagaimana emas dinilai mampu mempertahankan daya beli dalam jangka panjang, sedangkan uang kertas mengalami penurunan nilai akibat inflasi.
“Kami ingin memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini jarang dibahas. Mengapa kita belajar banyak hal tentang ekonomi, tetapi hampir tidak pernah diajarkan bagaimana konsep uang menurut Rasulullah,” kata Jul Kande.
Ia juga menilai perkembangan ekonomi digital dan sistem keuangan global perlu dikaji secara lebih mendalam, terutama oleh kalangan akademisi, ulama, dan para ahli ekonomi.
Meski mengangkat tema yang cukup kompleks, pembuat film mengakui masih banyak kekurangan dalam penyajian cerita. Keterbatasan durasi membuat banyak gagasan dimasukkan ke dalam satu film sehingga alur dinilai padat.
“Film ini bukan untuk memberikan jawaban akhir. Film ini hanya menyampaikan kegelisahan. Jawabannya tentu harus didiskusikan bersama para guru, akademisi, ulama, dan pakar ekonomi,” katanya.
Ia berharap Dua Mata dapat menjadi pemantik diskusi di ruang-ruang publik, mulai dari kampus, warung kopi hingga komunitas masyarakat.
“Kami ingin setelah menonton film ini, orang pulang membawa pertanyaan, lalu mendiskusikannya. Bukan berhenti di layar bioskop, tetapi menjadi awal lahirnya kesadaran dan kajian yang lebih mendalam tentang ekonomi dan nilai uang,” tutupnya.
Acara tersebut turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Vit Rusdi Akademisi UIN Araniry Syarifuddin Abe dan Muhammad, Seniman Aceh Rafly, Ketua MaSA Chairian Ramli, pelaku film dan mahasiswa.[ ]









