BIREUEN – Pesantren Modern Al Zahrah resmi meluncurkan program Podcast Al Zahrah yang tayang perdana pada Ahad, 20 Juli 2026, melalui siaran langsung Instagram dan TikTok @ponpesalzahrahbireuen.
Episode perdana mengangkat tema “Budaya Viral Versus Budaya Ilmu” dengan menghadirkan narasumber Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah. Podcast dipandu oleh host Riza Mulia.
Ketua Bidang Humas dan Publikasi Al Zahrah Literacy Center (ALC), Nanda Rezeki, mengatakan podcast ini menjadi wadah baru bagi santri untuk menyampaikan gagasan, mengasah literasi digital, dan merespons isu-isu kekinian dari perspektif pesantren.
“Anak-anak sekarang hidup di era serba viral. Podcast ini kami hadirkan agar santri bisa membedakan mana budaya viral yang sekadar tren dan mana budaya ilmu yang membangun karakter,” ujar Nanda, Senin, 21 Juli 2026.
Dalam episode berdurasi 25 menit tersebut, Tgk. Fadhil menekankan pentingnya sikap kritis santri dalam menyikapi konten media sosial. Menurutnya, tidak semua yang viral bermanfaat, sementara budaya ilmu menuntut proses, adab, dan keberkahan.
Meskipun demikian, hadirnya tren media sosial bukan tabu dan ancaman bagi santri, melainkan peluang untuk membangun narasi dakwah di era digital.
“Santri Al Zahrah sudah terbiasa menyiarkan konten-konten kreatif dan inspiratif melalui pendampingan para guru,” kata Tgk. Fadhil.
Pada tahap awal, Podcast Al Zahrah dijadwalkan tayang dua kali sebulan atau bersifat tentatif dengan tema seputar pendidikan, akhlak, bahasa, dan problematika remaja. Proses produksi mulai dari riset, skrip, hingga penyuntingan dikerjakan langsung oleh tim media ALC berkolaborasi dengan Media Al Zahrah.
Tgk. Fadhil mengapresiasi ide kreatif para santri dan tim ALC dalam mengembangkan proses pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Sekali lagi selamat. Ke depan, Podcast Al Zahrah juga bisa mengundang tokoh alumni dan praktisi untuk memperkaya perspektif santri,” ujarnya.
“Ini bagian dari ikhtiar pesantren membekali santri dengan kemampuan komunikasi publik di era digital,” tutupnya.









