LANGSA – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh bersama Badan Kesbangpol Kota Langsa menggelar Dialog Kerukunan Milenial dan Gen Z Lintas Agama di Kota Langsa, Rabu (5/8/2026). Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dari BEM Universitas Samudra dan IAIN Langsa ini menjadi upaya memperkuat nilai toleransi, menangkal penyebaran hoaks, serta membangun generasi muda yang mampu menjaga kerukunan di ruang digital maupun kehidupan bermasyarakat.
Kepala Badan Kesbangpol Aceh melalui Kabid Ketahanan Ekonomi, Sosial Budaya, Agama dan Ormas, Muksalmina, S.Pd., M.Si, menegaskan bahwa generasi milenial dan Gen Z saat ini bukan lagi sekadar calon pemimpin masa depan, melainkan aktor utama yang menentukan stabilitas daerah.
“Pemerintah Aceh, khususnya Badan Kesbangpol Aceh, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap eksistensi generasi muda. Saat ini persentase penduduk kita didominasi oleh kaum milenial dan Generasi Z. Anda semua bukan lagi sekadar pemimpin masa depan, melainkan aktor utama penentu stabilitas daerah hari ini,” kata Muksalmina saat membacakan sambutan Kepala Badan Kesbangpol Aceh.
Ia menegaskan, Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam tetap menjunjung tinggi nilai keadilan, perlindungan, dan kebebasan beribadah bagi seluruh pemeluk agama. Menurutnya, dialog lintas agama menjadi bukti bahwa keberagaman di Aceh dirawat melalui komunikasi yang sehat dan saling menghormati.
“Kita sadar masih ada stigma yang menyebut Aceh sebagai daerah yang tidak toleran. Melalui forum dialog ini, kita tunjukkan fakta yang sebenarnya kepada dunia. Kehadiran mahasiswa dan pemuda lintas agama hari ini merupakan bukti bahwa keberagaman di Aceh dirawat dengan kehangatan, dialog, dan rasa saling menghargai,” ujarnya.
Muksalmina juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap kerukunan kini lebih banyak muncul melalui media sosial dibandingkan konflik fisik. Menurutnya, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga narasi provokatif dapat memicu perpecahan apabila tidak disikapi secara kritis.
“Jika Milenial dan Gen Z tidak membekali diri dengan kedewasaan berpikir, kita akan mudah terpecah belah. Karena itu, Kesbangpol Aceh terus berkomitmen memfasilitasi ruang dialog seperti ini agar pemuda Aceh memiliki imunitas yang kuat terhadap radikalisme, intoleransi, dan politik identitas yang memecah belah bangsa,” katanya.
Ia berharap hasil dialog tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi melahirkan komitmen nyata dari para peserta untuk menjadi agen perdamaian di lingkungan masing-masing, termasuk di media sosial.
“Kami ingin lahir pemikiran kritis, kesepahaman bersama, serta tindakan nyata. Jadilah perpanjangan tangan pemerintah di komunitas kalian. Jadilah Agen Perdamaian yang mampu meredam potensi konflik sekecil apa pun, baik di ruang digital maupun di tengah masyarakat,” pesannya.
Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber. Muksalmina membawakan materi “Memahami Cara Kerja TikTok dan Algoritmanya agar Kita Menjadi Generasi Cerdas, Kritis serta Penjaga Kerukunan di Ruang Digital.” Selanjutnya, Dr. M. Alkaf, M.Si, dosen IAIN Cot Kala Langsa, memaparkan materi “Gen Z, Media Sosial dan Pemeliharaan Kerukunan.” Sementara Kepala Badan Kesbangpol Kota Langsa, Boby Edwin, ST, menyampaikan materi “Kerukunan sebagai Pilar Keharmonisan Daerah.”
Melalui kolaborasi Kesbangpol Aceh dan Kesbangpol Kota Langsa, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat semangat toleransi di kalangan generasi muda sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab bersama dalam mewujudkan Aceh yang damai, harmonis, dan kondusif.[]









