TAKENGON – Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 WIB itu bertujuan menumbuhkan pemahaman siswa tentang pentingnya menghargai perbedaan sejak usia dini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KPM mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe yang menyasar siswa sekolah dasar sebagai kelompok sasaran utama. Dalam sosialisasi tersebut, para mahasiswa memperkenalkan konsep moderasi beragama, yakni sikap menjalankan agama dengan baik sekaligus tetap menghormati teman yang memiliki perbedaan agama maupun latar belakang.
Ketua Kelompok KPM, Muhammad Yusran, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat Desa Asir-Asir yang memiliki keragaman agama.
“Tujuan kami melaksanakan sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman kepada siswa sejak dini tentang pentingnya toleransi. Karena di Desa Asir-Asir sendiri masyarakatnya tidak hanya beragama Islam, tetapi juga ada masyarakat non-Muslim. Jadi, kami merasa penting untuk mengenalkan kepada siswa bagaimana cara menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di lingkungan mereka,” ujar Yusran.
Ia menambahkan, pemilihan SDN 7 Lut Tawar sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Menurutnya, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini karena siswa akan tumbuh dan berinteraksi langsung dengan masyarakat desa yang majemuk.
“Kami memilih sekolah ini karena sekolah merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini. Apalagi siswa-siswi di sini nantinya akan tumbuh dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Desa Asir-Asir yang memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda. Jadi, menurut kami, pemahaman tentang toleransi perlu diberikan sejak mereka masih di bangku sekolah dasar,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KPM menyampaikan materi bahwa setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan masing-masing, baik dari segi bahasa, kebiasaan, makanan, maupun latar belakang. Perbedaan tersebut, menurut materi yang disampaikan, bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan belajar satu sama lain.
Siswa juga diberikan pemahaman mengenai arti toleransi sebagai sikap menghargai dan menerima perbedaan, tanpa harus memiliki kesamaan dalam segala hal, agar dapat hidup berdampingan secara damai. Untuk mempermudah penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa memberikan sejumlah contoh sederhana, seperti saling menghormati, membantu teman yang mengalami kesulitan, tidak mengejek teman, serta mengajak semua teman bermain bersama tanpa membeda-bedakan. Contoh serupa juga dikaitkan dengan kehidupan di rumah dan lingkungan sekitar, seperti menolong tetangga dan menghormati kebiasaan keluarga lain.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Selain mendengarkan materi, siswa turut diajak menjawab sejumlah pertanyaan sederhana mengenai agama yang diakui di Indonesia, kitab suci beberapa agama, serta contoh sikap toleransi di lingkungan sekolah. Sesi tanya jawab ini digunakan mahasiswa KPM untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Kepala SDN 7 Lut Tawar, Yernida Rosela, M.Pd., menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat memberi dampak nyata terhadap sikap siswa dalam bergaul sehari-hari.
“Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, kami berharap siswa dapat memiliki sikap toleransi yang lebih tinggi, saling menghargai, dan tidak memilih-milih teman dalam bergaul. Kami juga berharap nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan ini dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Muhammad Yusran mengungkapkan, harapan utama dari kegiatan ini adalah agar nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti pada saat sosialisasi berlangsung, tetapi dapat dipraktikkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini, siswa-siswi dapat lebih memahami arti toleransi dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tidak membeda-bedakan teman, saling menghargai, saling membantu, dan tetap bisa bermain serta berteman dengan siapa saja meskipun memiliki perbedaan agama atau latar belakang,” ujarnya.
Ia juga berharap sikap toleransi yang ditanamkan sejak dini ini dapat membawa manfaat lebih luas bagi kehidupan bermasyarakat di Desa Asir-Asir.
“Harapan kami tentunya agar apa yang kami sampaikan tidak hanya dipahami pada saat kegiatan berlangsung, tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap siswa-siswi di sini memiliki sikap toleransi yang tinggi, terutama dalam bergaul dan bermain, serta tetap bisa menjalin hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat non-Muslim yang ada di Desa Asir-Asir. Dengan begitu, kerukunan dan kehidupan yang harmonis di desa ini dapat terus terjaga,” tutupnya.
Kegiatan sosialisasi moderasi beragama ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe yang diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk, khususnya di Desa Asir-Asir, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.







