Jakarta – Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina, yang diduduki pada Senin (31/8). Ia bahkan beribadah dan tampak menyerukan agar sebuah kuil Yahudi dibangun di lokasi tersebut, sebuah pelanggaran terang-terangan terhadap status quo Al Aqsa.
Dengan perlindungan pasukan pendudukan Israel, Ben-Gvir memasuki kompleks tersebut pada Senin, didampingi sejumlah rabi, warga pemukim Yahudi, dan personel keamanan.
Dalam kesempatan itu, ia menyatakan rencana untuk mengubah status quo historis Masjid Al Aqsa. Politikus sayap kanan tersebut telah beberapa kali melakukan aksi provokatif serupa.
Ben-Gvir melakukan doa dan ritual Talmud di bagian timur halaman kompleks masjid, demikian dilaporkan kantor berita Palestina Wafa.
Berdasarkan pengaturan status quo yang berlaku sejak 1967, umat non-Muslim tidak diperbolehkan melakukan ibadah di kompleks tersebut, meskipun orang Yahudi diperbolehkan berkunjung ke situs itu.
“Ketika saya berusia 14 tahun, berdoa dilarang, dan siapa pun yang bergumam akan ditangkap. Hari ini kita melihat penebusan. Sangat mengharukan bisa bersama kalian hari ini, dan kalian benar, kita harus meniup shofar dan membawa lantunan doa, dan harus ada sebuah kuil… sebuah kuil… sebuah kuil… tetapi sedikit demi sedikit,” kata Ben-Gvir saat melakukan aksi tersebut, menurut Elias Karram dari Al Jazeera Arabic.
“Saya sangat terharu… dan kalian mengatakan bahwa kita harus membawa lantunan doa dan meniup shofar [tanduk domba jantan],” ujar menteri keamanan nasional tersebut.
Pemimpin partai sayap kanan Jewish Power itu telah beberapa kali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa sejak menjabat pada 2022, hingga menuai kecaman luas.
Ben-Gvir, yang secara rutin menyerukan pembersihan etnis terhadap warga Palestina dari wilayah yang diduduki Israel, merupakan bagian dari gerakan pemukim yang terus berkembang dan ingin mengambil alih kompleks tersebut serta membangun sinagoge Yahudi di lokasi situs suci umat Islam itu.
Aksi terbaru ini terjadi ketika puluhan ribu umat Yahudi dalam beberapa hari terakhir mengikuti ibadah Yom Kippur, yang berlangsung selama satu bulan penuh di Tembok Barat, yang juga dikenal sebagai Tembok Ratapan, menjelang hari-hari raya Yahudi pada September.
Kegubernuran Yerusalem mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya serta pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum yang berlaku di masjid tersebut. Menurut Wafa, kegubernuran juga menyebutnya sebagai upaya untuk menciptakan realitas baru di lokasi tersebut dan mengubah identitas Islamnya.
Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan para pemukim melakukan aksi masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa setiap hari, kecuali pada Jumat dan Sabtu.
Sementara itu, Israel juga kerap memberlakukan pembatasan terhadap umat Muslim yang mengunjungi Masjid Al Aqsa, terutama warga Palestina.
Tahun ini, mereka mencegah pelaksanaan salat Idulfitri di Al Aqsa dan hanya mengizinkan 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat guna melaksanakan salat Jumat pertama Ramadan.









